Isu Virus Wuhan di China, Indonesia Belum Akan Memberikan Travel Warning

Akan tetapi, wamenlu mengatakan WNI yang berada di China tetap harus waspada

Isu Virus Wuhan di China, Indonesia Belum Akan Memberikan Travel Warning
US Embassy in Spain
IlUSTRASI - Travel warning dirilis Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada 28 Desember 2019 menyebut, agar warganya menghindari kawasan Timika dan Grasberg di Papua, karena adanya kekacauan besar di sana. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Larasati Dyah Utami

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia belum akan memberikan travel warning  terkait virus korona jenis baru yang menyebabkan penyakit pnemonia misterius di Wuhan, China.

Disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Mehendra Siregar pemerintah Indonesia masih akan mengevaluasi terkait hal tersebut.

"Belum (belum ada travel warning), kami akan evaluasi terus," ujarnya di Komplek Parlemen, Senin (20/1/2020).

Akan tetapi, wamenlu mengatakan WNI yang berada di China tetap harus waspada, hal tersebut dikarenakan virus tersebut bergerak sangat cepat.

"Diwaspadai, karena hal tadi bergerak cepat sekali," lanjutnya

Pemerintah Indonesia berharap pemerintah China dapat melakukan upaya yang dapat mencegah penyebaran virus.

"Kita harap pihak pemerintah China dapat mengcontain dan mengisolasinya. kita pantau betul karena pergerakannya," ujar Mahendra Siregar.

Sebelumnya diberitakan, China telah mengidentifikasi virus korona jenis baru yang menyebabkan adanya wabah pneumonia misterius yang terjadi di Wuhan China.

South China Morning Post melaporakan setidaknya 59 orang terinfeksi virus tersebut.

Virus jenis baru yang menerjang Wuhan tersebut diketahui serupa atau "masih keluarga" dengan virus sindrom pernapasan akut berat atau SARS yang menghebohkan dunia tahun 2002-2003 lalu.

Patogen dari virus pneumonia misterius ini awalnya diidentifikasi sebagai virus korona jenis baru.

Sebelumnya, otoritas kesehatan di Wuhan mengesampingkan adanya dugaan atau hubungan SARS menjadi penyebab wabah tersebut.

Kini virus baru tersebut terbukti memiliki hubungan dengan SARS.

Namun tak seperti SARS yang telah membunuh ratusan orang di China dan Hong Kong, untuk virus ini, belum ada laporan kematian yang dilaporkan.

Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved