Pemda Tokyo Jepang Tinjau Kembali Aturan Penggunaan Kereta Dorong Bayi Kembar di Dalam Bus

Pemda Tokyo Jepang akan meninjau kembali peraturan yang mengharuskan kereta dorong anak kembar dilipat jika naik bus Toei milik Pemda Tokyo.

Pemda Tokyo Jepang Tinjau Kembali Aturan Penggunaan Kereta Dorong Bayi Kembar di Dalam Bus
NHK
Kelompok pendukung kereta dorong anak kembar menghadap Gubernur Tokyo Yuriko Koike, Jumat (31/1/2020). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pemda Tokyo Jepang akan meninjau kembali peraturan yang mengharuskan kereta dorong anak kembar dilipat jika naik bus Toei milik Pemda Tokyo.

"Kita akan meninjau kembali peraturan pelipatan kursi dorong anak kembar tersebut, sehingga bisa lebih nyaman bagi ibu yang punya anak kembar nantinya," kata Yuriko Koike, Gubernur Tokyo, Jumat (31/1/2020) setelah menerima kelompok pendukung kereta dorong anak kembar di kantornya.

Kelompok pendukung mendesak Pemda Tokyo meninjau peraturan karena menjadi sulit untuk ke luar dan menjadi terisolasi dari masyarakat.

Orang tua dan anggota kelompok pendukung anak kembar bertemu dengan Gubernur Koike kemarin.

Baca: Bukan Karena Masalah Kesehatan, Ternyata Ini Alasan Orang Jepang Suka Pakai Masker

Baca: Sepatu Prototipe yang Dijual Setelah 30 April Dilarang Dipakai Atlet Olimpiade 2020 Jepang

Kereta dorong bayi kembar lebih besar dari biasanya, membuat Bus Toei meminta masyarakat pengguna untuk melipatnya saat naik.

Tetapi tidaklah mudah melakukan hal itu mengingat seorang ibu harus mengatur dua anaknya dan kereta dorong sangat besar untuk dua anak sehingga kesulitan untuk melipat.

Sebagai tanggapan, Gubernur Koike menyatakan, "Kami akan melanjutkan dengan koordinasi dengan pemerintah dan organisasi terkait."

Tidak disebutkan secara eksplisit menyatakan kapan, tetapi menunjukkan niatnya untuk meninjau kembali peraturan tersebut.

Baca: Rapat dengan Mendag Molor 3 Jam, Anggota DPR Mufti Anam Singgung Kedisiplinan Orang Jepang

Baca: 27.722 Wanita Kecewa, Milyader Jepang Batalkan Pencarian Jodoh untuk Temani Terbang ke Luar Angkasa

Naomi Kakuda, yang membesarkan anak kembar berusia 3 tahun yang mengajukan permintaan itu, mengungkapkan, "Saya pikir menjadi seorang anak adalah pilihan paling aman untuk tinggal di rumah. Tetapi kalau kita di rumah saja tentu akan membuat kita terisolasi dan kesepian."

"Saya terpojok dan berjuang secara mental agar tidak terisolasi. Saya pikir kereta dorong kembar mudah-mudahan dapat diakses akan menjadikannya kota yang ramah bagi keluarga semuanya," ujar dia.

Info lengkap dan diskusi Jepang dapat ikutan WAG Pecinta Jepang, kirimkan ke email: info@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved