Deutsche Welle

Kisah Warga Hidup dalam Kepungan di Idlib, Suriah: "Saya Merasa Benar-benar Sendiri"

Di tengah konflik berkepanjangan itu muncul keputusasaan. Tetapi hidup harus terus berlanjut, ujar Mona Al-Bakkoor, salah seorang…

Mona Al-Bakkoor telah hidup dalam ketakutan, di bawah langit yang penuh desingan roket dan bom. Ia dikepung perang dari segala penjuru. "Apakah Anda terkena (bom) atau tidak, cuma soal keberuntungan," warga Suriah berusia 24 tahun ini menulis kepada DW melalui aplikasi WhatsApp.

Saat itu, hari Senin tanggal 10 Februari 2020. Mona dan suaminya bertahan di rumah mereka di pusat kota Idlib. Sari sana, dia menggambarkan situasi di sekitar yang kian memburuk.

Dalam setahun belakangan ini, pertempuran yang tengah berlangsung untuk menguasai Idlib -pertahanan terakhir kubu pemberontak di Suriah - jadi makin sengit. Bom tentara Suriah dan sekutunya dari Rusia menghujani kota itu setiap hari. Sementara pasukan Turki yang bersekutu dengan pemberontak dengan cepat mendekati kota dari arah selatan.

Ada sekitar tiga juta orang tinggal di Provinsi Idlib dan diperkirakan sebanyak 700.000 orang telah meninggalkan wilayah itu sejak akhir Desember. Sebagian besar warga mengungsi ke wilayah Turki.

Namun, Mona tidak pernah punya niatan untuk mengungsi. Dia dan suaminya bertekad untuk tetap tinggal di Idlib, apa pun yang terjadi. Mona mengatakan dirinya telah terpaksa pindah sebanyak empat kali dalam 10 bulan belakangan ini. Kadang-kadang karena bom, kadang juga karena tidak mampu bayar sewa. Perempuan itu mengatakan tidak punya cukup energi untuk mengungsi. "Lagi pula, tidak ada tempat yang benar-benar aman," ujarnya.

Kabar singkat dari wilayah perang

Dari foto dan video yang dia kirim ke DW, terlihat bahwa Mona kurus dan lemah. Dia mengatakan bahwa berat badannya berkurang lebih dari 15 kilogram akibat tekanan hidup di zona perang.

Dia juga mengirim gambar yang diambil pada hari-hari sebelum rangkaian pengeboman dimulai. Di foto itu orang bisa melihat seorang remaja memakai jilbab dan menyandang tas tangan berwarna-warni sedang melihat ke kamera.

Keluarga Mona berasal dari Tabqa yang letaknya dekat kota Raqqa. Agustus 2014, organisasi teror ISIS menguasai kota itu setelah berminggu-minggu memerangi tentara Suriah. Mona, orang tuanya, dan lima saudara kandungnya mengungsi ke Idlib. Tapi tidak lama setelah itu, rumah yang mereka tempati di Idlib hancur akibat serangan udara.

Setiap hari, Mona menulis ratusan pesan WhatsApp yang menggambarkan kehidupannya. Dia sertakan juga foto, berkas audio dan video. Mona juga berbagi lokasi secara langsung yang bisa dengan tepat menunjukkan di mana dia berada pada waktu tertentu.

Namun demikian, tidak satu pun pesan itu bisa benar-benar mewakili pengalaman sehari-harinya, bagaimana rasanya berada dalam situasi seperti itu.

Berusaha hidup normal

Halaman
123
Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved