Pohon dari Indonesia Ternyata Ada yang Disimpan di Taman Shinjuku Gyoen Tokyo Jepang

Di Taman Shinjuku Gyoen Tokyo ternyata memiliki pohon yang berasal dari Indonesia, khususnya dari Jawa.

Pohon dari Indonesia Ternyata Ada yang Disimpan di Taman Shinjuku Gyoen Tokyo Jepang
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Sumiyanto Nezu, warga Klaten yang berdiri di dekat jambang untaian pohon anggrek yang bagi orang Jepang tidak biasa anggrek digantung. 

Laporan Koresponden ‪Tribunnews.com‬, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Taman Shinjuku Gyoen di Tokyo dengan luas 58,3 hektar dibangun sejak tahun 1772 saat Zaman Meiji.

Di taman ini ternyata memiliki pohon yang berasal dari Indonesia, khususnya dari Jawa.

"Waktu saya mulai mengelola rumah kaca (onshitsu) ini, saya kenalan dulu dengan masing-mnasing jenis pohon dan ternyata menemukan pohon dari Jawa," kata Sumiyanto Nezu lulusan STSI di Solo jurusan karawitan.

Taman Shinjuku Gyoen merupakan kediaman keluarga Naitō di Zaman Edo. Setelah itu, Badan Rumah Tangga Kekaisaran Jepang mengelolanya menjadi sebuah taman.

Sekarang, taman ini telah menjadi taman nasional di bawah yuridiksi Kementerian Lingkungan Hidup Jepang.

Sumiyanto Nezu, team leader rumah kaca Shinjuku Gyoen membawahi 6 stafnya orang Jepang.
Sumiyanto Nezu, team leader rumah kaca Shinjuku Gyoen membawahi 6 stafnya orang Jepang. (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

"Waktu mulai bekerja di Shinjuku Gyoen saya mulai dengan mempelajari bunga Kiku (Chrysanthemum) yang merupakan bunga kekaisaran Jepang. Susah belajar bunga itu tetapi jadi tantangan besar bagi saya," kata tekan Sumiyanto Nezu kepada Tribunnews.com kemarin.

Pria kelahiran Klaten 14 Oktober 1979 itu tiba di Jepang 25 Desember 2005 dan menikah dengan orang Jepang, Ayako, Februari 2006, lalu beruntung dapat kerja di Shinjuku Gyoen.

Baca: Kesaksian Korban Begal yang Cium Tangan Jasad Pelaku : Saya Tidak Punya Dendam, Saya Maafkan

Baca: Kali Ciliwung Meluap, 1.091 Jiwa di Jaksel dan Jaktim Mengungsi

"Tidak terbayang saya bisa bekerja di tempat pertamanan ini, karena sejak kecil saya malah sukanya gamelan dan lulusan dari karawitan. Namun sekarang saya senang sekali bisa mengabdikan diri buat onshitsu di Shinjuku Gyoen ini," lanjutnya.

Akhir-akhir ini menurutnya banyak sekali tamu datang ke Onshitsu tersebut berkat karya Sumi terutama tiga tahun terakhir ini sejak 2017.

Sumiyanto Nezu dengan pohon yang berasal dari Jawa.
Sumiyanto Nezu dengan pohon yang berasal dari Jawa. (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

"Dulu itu bunga Bougenville (bunga kertas) tidak ada di pintu masuk ini, jadi terasa kosong. Tapi saya merangkainya dan syukurlah berbunga indah saat ini sehingga tamu yang masuk banyak yang berhenti untuk memotretnya," ujar Sumiyanto mulai menceritakan taman karyanya di dalam onshitsu.

Keberhasilannya juga diakui oleh pengontrolnya dari Kementerian Lingkungan Hidup Jepang, Seki.

Baca: Azyumardi Azra Bela Maruf Amin soal Hasil Survei dengan Jokowi: Dia Tak Ingin Jadi Matahari Kembar

Baca: Ekonomi Global Diprediksi Tergerus USD 1,1 Triliun akibat Pandemi Virus Corona

"Dia memang kerja sangat baik, dan saat ini banyak sekali tamu menyukainya kalau ke onshitsu," kata Seki kepada Tribunnews.com mengomentari karya Sumiyanto.

Sudah 13 tahun lamanya Sumiyanto bekerja di taman ini dan dia dua kali perpanjangan kontrak kerjanya setiap lima tahun.

Pohon Paphiopedilum Javanicum
Pohon Paphiopedilum Javanicum (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Hal itu dirasakan sangat cepat oleh Sumi karena sangat menikmati kerjanya selama ini, mulai Senin sampai dengan Jumat.

"Saya libur dua hari dalam seminggu," kata dia.

Sumiyanto mengakui tak mengerti bahasa khusus tumbuhan, nama ilmiah Jepang, diakui sangat sulit dan terpaksa harus menghafalnya sendiri.

Baca: Teroris yang Tembaki 9 Orang dan Ibunya di Jerman Percaya Teori Konspirasi dan Terobsesi Alien

Baca: Tak Hadiri Pemakaman, Adik Ashraf Sinclair Ziarah, Keluarga Tersenyum Bareng Foto Suami BCL

"Ya syukurlah semua berhasil saya hafal, terutama nama-nama latinnya karena bahasa internasional. Kalau kita sebut nama aslinya dalam bahasa Latin semua orang bisa tahu dan mengerti," ujarnya.

Terkadang ada waktunya pengunjung rombongan melihat lokasi-lokasi pembibitan tanaman di sana.

Sumiyanto Nezu di pintu masuk depan rumah kaca Shinjuku Gyoen menunjukkan bunga langka anggrek pink yang ada sejak tahun 1920.
Sumiyanto Nezu di pintu masuk depan rumah kaca Shinjuku Gyoen menunjukkan bunga langka anggrek pink yang ada sejak tahun 1920. (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

"Kini tiap bulan sekali ada pameran, display, ide saya sendiri, bergilir kadang anggrek kadang bunga dan sebagainya. Ternyata menarik bagi para tamu, hasil temuan saya dari barang-barang yang ada di gudang lalu saya fungsikan dan disajikan buat pengunjung," kata dia.

Setiap hari sekitar 1.000 orang dipastikan mengunjungi taman tersebut. Apalagi musim libur dan di akhir pekan akan jauh lagi lebih banyak yang hadir.

Baca: SELAMAT ! Tantri Kotak dan Ardan Dikaruniai Anak Kedua, Sempat Ungkap Idap Toxoplasma

Baca: Tak hanya WNI, Ini Cara Mengisi Sensus Penduduk Online 2020 untuk WNA yang Tinggal di Indonesia

Terutama saat ini setelah Sumi mengelola onshitsu tersebut bersama enam staf Jepang.

Ada tiga gerbang untuk mengakses Shinjuku Gyoen, yaitu Gerbang Shinjuku, Gerbang Okido, dan Gerbang Sendagaya.

Taman ini buka dari pukul 09.00 sampai 16.30.

Sumiyanto Nezu, warga Klaten yang berdiri di dekat jambang untaian pohon anggrek yang bagi orang Jepang tidak biasa anggrek digantung.
Sumiyanto Nezu, warga Klaten yang berdiri di dekat jambang untaian pohon anggrek yang bagi orang Jepang tidak biasa anggrek digantung. (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Pada hari Senin, taman ditutup, kecuali saat musim sakura dan krisan, yaitu akhir Maret sampai akhir April dan awal November.

Pada waktu tersebut, taman dibuka setiap hari. Rumah kaca dibuka dari pukul 09.30 sampai 16.00.

Taman dapat diakses terakhir kali pada pukul 16.00.

Info mengenai Shinjuku Gyoen bisa dilihat di: http://www.env.go.jp/garden/shinjukugyoen/english/index.html

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved