Virus Corona

Kasus Positif Tembus 5.000 orang, Korea Selatan Nyatakan Perang Lawan Virus Corona

Moon dalam konferensi persnya melaporkan, ada 851 kasus baru dan tiga kasus kematian terjadi pada Selasa.

AFP/YONHAP/SOUTH KOREA OUT
Para petugas dilengkapi pakaian pelindung menyemprotkan cairan desinfektan di sebuah pasar di daerah Daegu, Korea Selatan, menyusul meluasnya wabah virus corona di negara itu, Minggu (23/2/2020). Penyebaran virus corona hingga hari ini, Senin (24/2/2020), semakin menunjukkan peningkatan di sejumlah negara, seperti Italia, Iran, dan Korea Selatan. 

TRIBUNNEWS.COM, SEOUL - Presiden Korea Selatan Moon Jae-in menyatakan perang melawan virus corona pada Selasa (3/3/2020).

Ia mengumumkan negaranya sedang darurat, di mana rumah sakit kekurangan tempat tidur untuk merawat orang yang dinyatakan positif serta pasokan masker menipis.

Moon dalam konferensi persnya melaporkan, ada 851 kasus baru dan tiga kasus kematian terjadi pada Selasa.

Sehingga total kasus positif mencapai 5.186 dengan 28 kasus kematian.

Moon membeberkan, pemerintah menyiapkan dana lebih dari 30 triliun won (25 miliar dolar AS) atau setara dengan sekitar Rp 358,8 triliun, untuk mengatasi situasi darurat dan memerintahkan semua otoritas bergerak sigap dan tanggap selama 24 jam penuh.

"Semua negara telah memasuki masa perang melawan wabah menular ini," ujarnya seperti dikutip dari Channel News Asia, Rabu (4/3/2020).

Situasi darurat yang melanda Negeri Ginseng itu memaksa sejumlah event hiburan K-Pops maupun olahraga dibatalkan serta libur sekolah diperpanjang hingga tiga pekan.

Kasus virus corona pertama di Korea Selatan terjadi kota Daegu, di mana pasiennya adalah perempuan berusia 61 tahun.

Sementara kasus lain, sebagian besar berasal dari Gereja Shinheonji Yesus, sebuah kelompok keagamaan yang kontroversial karena dianggap sesat.

Korea Selatan menjadi negara di luar wilayah China dengan kasus virus corona terbesar selain Iran, Italia, dan Jepang.

"Wabah di Republik Korea, Italia, dan Iran, dan Jepang menjadi kekhawatiran besar bersama. Langkah-langkah agresif sejak dini, negara-negara bisa menghentikan penyebaran dan menyelamatkan nyawa," tegas Direktur WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss, pada Senin (2/3) seperti dilansir oleh situs resmi PBB.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved