Deutsche Welle

Gencatan Senjata Turki-Rusia Dimulai, Idlib Berangsur Tenang

Turki dan Rusia sepakati gencatan senjata di Idlib untuk redakan bencana kemanusiaan. Ini bukan yang pertama. Akankah gencatan senjata…

Gencatan Senjata Turki-Rusia Dimulai, Idlib Berangsur Tenang

Gencatan senjata yang disepakati antara Rusia dan Turki mulai berlaku di Idlib, wilayah barat laut Suriah, demikian hasil konfirmasi para aktivis dan kelompok pemantau perdamaian pada Jumat (06/03).

Gencatan senjata kali ini disepakati di tengah kekhawatiran pecahnya perang proksi antara Turki, yang mendukung kelompok pemberontak melawan Suriah, dengan Rusia yang mendukung pemerintah Suriah.

Organisasi Syrian Observatory for Human Rights yang berkedudukan di Inggris mengatakan bahwa situasi di sebagian besar wilayah di Idlib berangsur tenang.

Organisasi tersebut mengatakan bahwa serangan udara dari pihak Rusia dan Suriah telah terhenti. Namun masih terdengar tembakan artileri oleh pasukan Suriah di beberapa wilayah di Aleppo dan Hama yang berbatasan dengan Provinsi Idlib.

Usaha akhiri penderitaan warga sipil

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pada hari Kamis (05/03) bahwa ia berharap gencatan senjata tersebut akan mengurangi penderitaan warga sipil di Idlib. Ribuan warga sipil telah mengungsi dari Idlib yang hancur oleh perang.

"Kami telah menyepakati dokumen bersama," ujar Putin, sambil menambahkan bahwa ia berharap dokumen tersebut akan "berfungsi sebagai dasar yang baik untuk mengakhiri pertempuran di Idlib."

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa "rezim Suriah pantas disalahkan" atas gagalnya perjanjian tahun 2018 antara Rusia dan Turki berkaitan dengan Suriah. Kedua negara tersebut juga telah mengumumkan akan melakukan patroli bersama di sepanjang jalan raya M4 di luar kota.

Bukan gencatan senjata pertama di Idlib

Koresponden DW Redaksi Rusia, Emily Sherwin, mengatakan bahwa pembicaraan antara kedua pemimpin berlangsung selama empat jam. Pembicaraan dimulai dengan pertemuan empat mata antara Putin dan Erdogan sebelum menteri dari kedua negara bergabung.

"Kedua pemimpin menekankan pentingnya memerangi teroris di Suriah, memerangi teroris di Idlib dan berjuang untuk kedaulatan wilayah di Suriah," kata Sherwin.

Namun, Sherwin menambahkan bahwa di Idlib sebelumnya juga pernah ada gencatan senjata.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah apakah gencatan senjata kali ini benar-benar akan bertahan. "Sampai saat ini, Moskow dan Ankara telah berhasil menghindari konflik meskipun memiliki kepentingan yang berbeda di Suriah.

Didukung Rusia, baru-baru ini Suriah kembali menyerang Idlib untuk merebut kembali kendali atas kota itu. Hal ini direspon oleh Turki dengan mengirim ribuan tentara ke daerah sekitar Idlib untuk meredam serangan Suriah. Puluhan orang dari kedua belah pihak telah tewas dalam pertempuran antara kedua pihak.

Konflik tersebut juga menyulut ketegangan antara Turki dan Uni Eropa. Erdogan telah berpaling dari kesepakatan pengungsi tahun 2016 dengan Uni Eropa dan membuka perbatasan negaranya dengan Yunani dan Bulgaria. Hal ini dilakukan agar Turki mendapatkan dukungan dari Uni Eropa dalam menjalankan intervensi militer di Suriah.

ae/yf(AP, AFP, dpa)

Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved