Breaking News:

Virus Corona

Malaysia Tutup Perbatasan, Singapura Pastikan Warganya Tak Akan Kekurangan Stok Pangan

Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Chan Chun Sing memastikan negara itu tidak akan kehabisan stok pangan.

Malay Mail
Berbeda dengan aksi panic buying Februari lalu, saat semua warga Singapura memenuhi troli mereka dengan banyak barang seperti kertas toilet dan makanan, pembeli pada Senin (16/3/2020) malam di Singapura, terlihat hanya membeli dalam jumlah relatif lebih kecil. 

TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA - Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Chan Chun Sing memastikan negara itu tidak akan kehabisan stok pangan.

Ia berusaha menghilangkan kekhawatiran warganya setelah negara tetangga, Malaysia mengumumkan akan menutup perbatasan dan menerapkan sistem penguncian (lockdown) secara nasional untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19).

Dikutip dari laman Malay Mail, Selasa (17/3/2020), Singapura memang selama ini mengimpor sebagian besar pasokan makanannya dari Malaysia sebagai sumber utama.

Baca: Mulai Hari Ini RS Al Islam Bandung Larang Warga Jenguk Pasien

Baca: Analisis Kondisi Persebaya: Aji Mesti Segera Temukan Pakem Jika Tak Mau Seperti Pikal

Baca: Pakar Sangsi dengan Keputusan Lockdown Malaysia, Tak Usah Ikuti China dan Italia

Banyak pula warga dari kedua negara itu yang bepergian, saling mengunjungi Malaysia dan Singapura setiap harinya.

Menurut Sing, pemerintah Singapura telah secara aktif bekerja sama dengan para pelaku usaha untuk meningkatkan stok makanan dan pasokan lainnya yang sangat penting bagi warga dan perekonomian Singapura selama dua bulan terakhir.

"Ini berarti bahwa kami tidak dalam kondisi darurat kehabisan stok makanan dan persediaan lainnya yang biasanya dibawa oleh para pengecer kami," kata Sing dalam sebuah postingannya di akun Facebook miliknya.

Ia mengklaim Singapura memiliki kemampuan produksi lokal untuk menghasilkan produk seperti mie, susu bubuk bayi dan produk-produk kaleng.

Singapura, kata dia, dapat meningkatkan produksi secara cepat jika diperlukan, dan negara kecil ini juga memiliki beragam sumber daya cukup terkait kebutuhan pokok.

Saat Singapura meningkatkan level kewaspadaannya terhadap virus corona pada awal Februari lalu, negara ini telah memicu kepanikan bagi warganya.

Hal ini bertepatan dengan aksi panic buying terhadap kebutuhan pokok di beberapa toko di seluruh negara di kawasan Asia Tenggara.

Perlu diketahui, Malaysia dan Singapura, yang berpisah pada 1965 setelah persatuan singkat pada tahun-tahun setelah kemerdekaan dari Inggris, selama ini memiliki hubungan ekonomi yang erat.

Sekitar 300.000 orang per harinya bergerak melintasi pos pemeriksaan darat antara kedua negara.

Sing menilai bisnis yang mempekerjakan para pekerja Malaysia yang bepergian antara kedua negara setiap harinya ini seharusnya mengaktifkan rencana kesinambungan.

Hal ini karena langkah baru Malaysia dalam menghadapi corona dengan menerapkan sistem lockdown tentunya akan berpengaruh pada kerja sama bisnis mereka.

Sebelumnya, pemerintah Malaysia memutuskan melakukan lockdown, ini berarti negeri jiran ini akan menutup perbatasannya untuk para pelancong, membatasi pergerakan internal, menutup sekolah-sekolah dan universitas serta memerintahkan sebagian besar bisnis untuk tutup sementara setelah jumlah kasus corona meningkat di negara itu pada Senin kemarin, menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved