Breaking News:

Virus Corona

Jumlah Kasus Masih Meningkat, Intip Cara Ketat Singapura Tangani Corona

Singapura melakukan langkah-langkah ketat mencegah penyebaran virus corona. Meski demikian, kasus di Singapura masih terus meningkat.

YONHAP / AFP
Ilustrasi Para pekerja medis yang mengenakan alat pelindung memindahkan seorang pasien virus korona (C) ke rumah sakit lain - WNI di Singapura Positif Terjangkit Virus Corona, Sudah Tunjukkan Gejala saat Masih di Jakarta 

Selain itu Singapura memiliki 140 pelacak kontak yang menjabarkan riwayat kasus setiap pasien.

Mereka bekerja sama dengan polisi dan layanan keamanan setempat.

Pengendalian penyakit melanggar kebebasan individu, tapi masyarakat Singapura mau menerima perintah atau aturan dari pemerintah untuk kesehatan bangsanya.

Baca: BREAKING NEWS: Satu Pasien Positif Corona di Solo Meninggal Dunia

Aturan saja tidak cukup. Masyarakat juga harus tertib mengikuti aturan yang dibuat pemerintah.

Hal itu memungkinkan orang lain melindungi diri mereka sendiri.

Pemerintah juga memiliki klinik khusus untuk epidemi.

Selain itu pemerintah mengeluarkan pesan resmi yang mendesak masyarakat untuk mencuci tangan dan mengatur tata cara bersin selama flu.

Kebijakan lain yang dibuat Singapura adalah pelarangan wisatawan mulai akhir Januari.

Singapura menjadi salah satu negara yang melarang wisatawan dari China.

4. Karantina

Selain itu orang yang dekat dengan pasien dikarantina untuk membatasi penyebaran.

Di negara berpenduduk 5,7 juta orang itu, pemerintahnya mengembangkan kemampuan untuk menguji lebih dari 2.000 orang per hari.

Pengujian sampel itu gratis.

Demikian juga perawatan medis untuk semua penduduk.

Orang yang diketahui dekat dengan pasien dimasukkan ke dalam karantina wajib untuk menghentikan penularan lebih lanjut.

Hampir 5.000 orang telah diisolasi.

Bagi mereka yang menghindari perintah karantina dapat menghadapi dakwaan pidana.

Semua pasien pneumonia di Singapura diuji coronavirus.

Begitu juga orang-orang yang sakit parah.

Kasus positif telah diidentifikasi di bandara, di klinik pemerintah dan, paling sering, melalui pelacakan kontak.

Sistem kesehatan masyarakat di Singapura telah dibangun bertahun-tahun.

Baca: Penampakan Virus Corona di Bawah Mikroskop, Seperti Mahkota dan Berduri

Beberapa tahun yang lalu, Singapura menghadapi wabah SARS.

Kini mereka telah belajar.

Pemimpin program pelacakan kontak di Singapura Kurupatham mengungkapkan, selama masa damai mereka merencanakan penanganan epidemi seperti ini.

Dia telah bekerja 16 jam sehari selama 2 bulan.

5. Belum Pikirkan Lockdown, Tapi Tak Tutup Peluang

Hingga saat ini, Singapura belum berpikir untuk menerapkan lockdown guna mengatasi penyebaran Corona. 

Menteri Pembangunan Nasional Singapura, Lawrence Wong mengatakan Singapura tidak mengesampingkan opsi lockdown. 

Namun, lockdown saat ini belum menjadi pilihan yang bakal diambil. 

"Kami selalu mengatakan bahwa kami perlu mempertimbangkan serangkaian tindakan dan tidak mengesampingkan apa pun," katanya dalam konferensi pers di Kementerian Komunikasi dan Informasi, Selasa kemarin sebagaimana dikutip dari The Strait Times. 

"Jadi sesuatu yang ketat, kami tidak berencana untuk itu . Jadi Singapura tidak boleh menganggap kami sebagai perencanaan untuk itu."

"Ini tentu ukuran yang sangat ekstrem, dan kami tidak berpikir kami perlu ke sana jika kami melakukan semua hal yang kami telah melakukan, kami telah melakukan advokasi, dan kami melakukannya dengan baik. " ujar dia. 

(Tribunnews.com/Daryono) (Kompas.com/Nur Fitriatus Shalihah)

Penulis: Daryono
Editor: bunga pradipta p
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved