Korban Pelecehan Kekuasaan di Yamaha Music Jepang, Karyawan R&D Akhirnya Meninggal Dunia

Menurut perusahaan dan para pejabat, pria yang meninggal di departemen Litbang adalah seorang karyawan pria berusia 30 tahun.

Korban Pelecehan Kekuasaan di Yamaha Music Jepang, Karyawan R&D Akhirnya Meninggal Dunia
Asahi
Kantor pusat Yamaha Music Japan Co. di Hamamatsu Perfektur Shizoka Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pada bulan Januari 2020 seorang karyawan pria dari pembuat alat musik utama Yamaha (yang berkantor pusat di Kota Hamamatsu) jatuh sakit.

Dia mendapat pelecehan kekuasaan (power harrasment) dan akhirnya meninggal dunia.

"Saya akan meminta maaf kepada pihak terkait dan melakukan yang terbaik untuk mencegah terulangnya kajadian serupa," kata Managing Executive Officer Yamaha, Satoshi Yamahata, Jumat (20/3/2020).

Menurut perusahaan dan para pejabat, pria yang meninggal di departemen Litbang adalah seorang karyawan pria berusia 30 tahun.

Baca: Kesedihan Sumanto si Manusia Kanibal saat Tahu Sosok Penolongnya Meninggal akibat Kecelakaan

Baca: Gadis 16 Tahun di Tanjungpinang Diduga Dirudapaksa 3 Pria yang Baru Dikenalnya

Penunjukan manajer bagian pada musim semi 2019 kemungkinan tidak cocok dengan seorang pria berusia 50-an, yang merupakan seorang eksekutif R&D.

Bos tersebut dipekerjakan pada perusahaan lain di tahun 2017.

Menurut perusahaan, karyawan pria itu telah sakit sejak sekitar Juni lalu dan berkonsultasi dengan psikiater.

Dia mengambil cuti dari bulan November untuk memulihkan diri di rumah orang tuanya, tetapi meninggal pada bulan Januari 2020.

Informasi yang menunjukkan pelecehan kekuasaan kepada korban dikirim ke meja pelaporan internal.

Baca: Yang Harus Dilakukan saat Berada di Area Sebaran dan Tips Agar Terhindar dari Virus Corona

Baca: Inilah Nama-nama Pejabat yang Terinfeksi Virus Corona dari Indonesia dan Negara Lainnya

Setelah seorang pria meninggal, Yamaha meminta pengacara pihak ketiga untuk menyelidikinya.

Pria itu ditemukan sakit karena pelecehan kekuasaan bosnya, dan dia pensiun pada Maret namun sejak Januari sudah tidak masuk kantor.

"Saya sangat prihatin dengan keluarga yang berduka. Saya bahkan tidak memperhatikan whistleblowing. Saya ingin menciptakan tempat kerja yang terbuka untuk komunikasi yang lebih baik dan memperkuat kepatuhan," kata Managing Executive Officer Yamaha, Satoshi Yamahata.

Diskusi mengenai Jepang dalam WAG Pecinta Jepang terbuka bagi siapa pun. Kirimkan email dengan nama jelas dan alamat serta nomor whatsapp ke: info@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved