Polisi India Lakukan Tindakan Represif Demi Jaga Warga Tetap Diam di Rumah Selama Lockdown

Pemerintah India telah mengumumkan diberlakukannya sistem penguncian (lockdown) secara nasional selama 21 hari.

TRIBUNNEWS.COM, NEW DELHI - Pemerintah India telah mengumumkan diberlakukannya sistem penguncian (lockdown) secara nasional selama 21 hari.

Kebijakan mendadak ini disampaikan oleh Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi.

Mengacu pada penerapan sistem ini, negara tersebut tampaknya telah memperketat langkah-langkahnya untuk menjaga 1,3 miliar penduduknya tetap berada di rumah.

Dikutip dari laman Malay Mail, Rabu (25/3/2020), dalam berbagai video yang viral di media sosial, aparat kepolisian di India terlihat menggunakan tindakan represif untuk menyuruh warga yang berkeliaran di jalanan agar kembali ke rumah masing-masing.

Baca: 144 Pasien Dirawat di RS Darurat Corona Wisma Atlet Kemayoran: 94 PDP, 41 ODP dan 9 Positif

Baca: Manejemen PSS Sleman Berencana Perpanjang Masa Libur Pemain

Baca: Patroli Bubarkan Kerumunan Warga, Sejauh Ini Belum Ada Perlawanan

Mereka terlihat memukuli sejumlah warga menggunakan tongkat kayu, karena diketahui melanggar aturan lockdown.

Ini tentunya menjadikan India sebagai negara yang telah menerapkan tindakan paling berat demi menjaga warganya agar diam di rumah demi menekan penyebaran virus corona (Covid-19).

Sebelumnya, PM Modi telah mengumumkan dalam pidatonya yang disiarkan di televisi nasional kepada seluruh warga negara terpadat kedua di dunia itu bahwa ia akan memberlakukan lockdown selama tiga pekan.

Penerapan sistem ini secara otomatis melarang warga India untuk tidak berkeliaran di luar rumah.

Lockdown di negara itu memang mulai diberlakukan tadi malam dan banyak warga yang masih terlihat saling berdesakkan di jalan dan berkerumun di bus umum, meskipun pemerintah telah memberikan banyak peringatan.

Termasuk pengerahan aparat kepolisian untuk menertibkan warga yang melanggar aturan.

Terlepas dari tindakan itu, polisi di kota Meerut di India Utara telah membuat warga yang melanggar aturan menunjukkan sikap berontaknya dengan menunjukkan tanda yang bertuliskan 'Saya adalah teman virus corona' atau 'Saya adalah musuh masyarakat'.

Mereka pun memposting foto itu di media sosial Twitter untuk mempermalukan kepolisian setempat.

Sementara akun Twitter resmi polisi Meerut dipenuhi gambar-gambar warga yang tampak memegang papan pemberitahuan 'bernada sarkastik'.

Mulai dari komentar dalam bahasa Hindi yang berbunyi 'Saya tidak percaya pada hukum negara' hingga 'Saya tidak peduli dengan keluarga atau masyarakat saya'.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved