Virus Corona
418.000 Orang Diperkirakan akan Meninggal Jika 80 Persen Warga Jepang Tak Bisa Berdiam Diri di Rumah
Prof Hiroshi Nishiura mengharapkan agar pemerintah melakukan langkah-langkah pencegahan lebih tinggi lagi agar masyarakat Jepang lebih banyak di rumah
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Prof Hiroshi Nishiura memperkirakan sebanyak 418.000 orang akan meninggal dunia akibat terinfeksi virus corona jika 80 persen warga Jepang tidak bisa berdiam diri di rumah.
"Hasil penelitian kami menunjukkan perlunya berdiam di rumah 80 persen apabila kita ingin selamat dan ke luar dari pandemi Covid-19 ini," kata Prof Hiroshi Nishiura, anggota tim ahli peneliti penyakit menular virus Corona Kementerian Kesehatan Jepang dan dosen Universitas Hokkaido dalam jumpa pers, Rabu (15/4/2020).
Oleh karena itu Prof Hiroshi Nishiura mengharapkan agar pemerintah melakukan langkah-langkah pencegahan lebih tinggi lagi agar masyarakat Jepang lebih banyak lagi di rumah.
Simulasi yang dibuat Nishiura tersebut dengan melihat kemungkinan 855.000 orang terinfeksi Corona bisa muncul bila tak dilakukan antisipasi lebih ketat lagi dan masyarakat tak mau tinggal di rumah.
"Dari jumlah terinfeksi yang disimulasi tersebut, sebanyak 49 persen nantinya kami perkirakan akan meninggal yaitu sekitar 418.000 orang," kata Prof Hiroshi Nishiura.
Infeksi bisa bersifat serius dan membutuhkan alat bantu pernapasan ventilator.
"Padahal saat ini saya perkirakan hanya sekitar 13.000 alat pernapasan buatan tersebut tersedia di Jepang. Jadi sangat kekurangan sekali saat ini," ungkap Nishiura.
Baca: Jumlah ODP Meningkat, Gugus Tugas Kembali Ingatkan Masyarakat untuk Isolasi Diri
Nishiura yang merupakan salah satu pakar penyakit menular yang menjadi penasihat di dalam tim respons pemerintah untuk mengatasi wabah virus Corona, sangat berharap masyarakat yang tinggal di Jepang menahan diri untuk tidak ke luar rumah sebanyak mungkin dan mengikuti semua petunjuk yang diberikan oleh pemerintah Jepang.
PM Jepang sendiri sejak 7 April telah mengeluarkan Deklarasi Darurat Nasional Jepang yang mengharapkan sedikitnya 80 persen masyarakat dapat tinggal di rumah supaya ke luar dari pandemi Corona di Jepang.
Awalnya deklarasi darurat nasional ini hanya berlaku bagi 7 kota dan daerah yaitu Tokyo, Kanagawa, Chiba, Saitama, Osaka, Hyogo dan Fukuoka.
Baca: Pelatih Legendaris Tottenham Harry Redknapp Buka Suara Perihal Masa Depan Harry Kane
Belakangan muncul deklarasi darurat di berbagai daerah lainnya seperti Toyama, Shizuoka, Aichi dan sebagainya.
Sementara itu seorang anggota parlemen, Takashi Takai, terpaksa mengundurkan diri dari oposisi utama Partai Demokrasi Konstitusional Jepang pada hari Rabu, setelah media melaporkan ia telah mengunjungi sebuah bar di distrik lampu merah Kabukicho Tokyo meskipun telah diumumkan deklarasi darurat permintaan untuk tetap tinggal di rumah.
Rencana PM Abe mengeluarkan bantuan 350.000 yen akhir Mei 2020 menyusul tahap kedua 100.000 yen kemungkinan akan dibalik menjadi 100.000 yen terlebih dulu atas usulan Ketua Partai Komei, Natsuo Yamaguchi, Rabu (15/4/2020).
Baca: Bill Gates dan PBB Angkat Bicara Atas Keputusan Trump Hentikan Dana kepada WHO
Hingga Rabu (15/4/2020) tengah malam, sebanyak 8.191 orang terinfeksi Covid-19 di Jepang, 853 orang sembuh dan 162 orang meninggal.
Angka tersebut di luar korban kapal pesiar Diamond Princess.
Diskusi mengenai Jepang dalam WAG Pecinta Jepang terbuka bagi siapa pun. Kirimkan email dengan nama jelas dan alamat serta nomor whatsapp ke: info@jepang.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/prof-hiroshi-nishiura-jepang.jpg)