Senin, 19 Januari 2026

Virus Corona

Kekurangan Alat Perlengkapan Medis, Wali Kota Osaka Jepang Kumpulkan Jas Hujan

Segera setelah pengumuman tersebut, siang hingga sore hari sudah terkumpul sedikitnya 1.500 jas hujan di kantor Wali Kota Osaka tersebut.

Editor: Dewi Agustina
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Raincoat atau jas hujan terkumpul di Kantor Wali Kota Osaka sebanyak 1500 set yang belum dipakai disumbangkan oleh masyarakat sekitarnya. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Wali Kota Osaka, Ichirō Matsui mengumumkan kepada masyarakatnya untuk mengumpulkan jas hujan yang tidak terpakai sebagai upaya mengantisipasi kekurangan perlengkapan medis di berbagai rumah sakit di Osaka.

"Bagi yang berlebih jas hujannya, silakan menghubungi kami, kumpulkan di kantor kami, karena sangat dibutuhkan saat ini mengingat kurangnya perlengkapan medis bagi para tenaga medis," kata Wali Kota Osaka Matsui, Rabu (15/4/2020) didampingi Gubernur Osaka Hirofumi Yoshimura.

Segera setelah pengumuman tersebut, siang hingga sore hari sudah terkumpul sedikitnya 1.500 jas hujan di kantor Wali Kota Osaka tersebut.

Baca: Lakukan Rapid Test Dadakan di Beberapa Tongkrongan, Polda Jatim Temukan Dua Orang Positif Covid-19

Kekurangan perlengkapan medis Jepang menjadi keluhan Ketua Asosiasi Medis Jepang Dr Takakura yang sebenarnya sejak 7 April lalu juga telah mengeluhkan hal itu langsung kepada PM Jepang Shinzo Abe.

Akhirnya Rabu (15/4/2020) kemarin pemerintah mengimbau produsen perlengkapan medis termasuk pembuat ventilator (alat pernapasan buatan) agar memperbanyak segera produksi alat tersebut dan memudahkan pendaftaran di Kementerian Kesehatan Jepang nantinya.

Ventilator atau alat pernapasan buatan Jepang yang jumlahnya sangat kurang di Jepang. Rabu (15/4/2020) pemerintah Jepang mengimbau produsen ventilator untuk meningkatkan produksi dan memudahkan pendaftaran.
Ventilator atau alat pernapasan buatan Jepang yang jumlahnya sangat kurang di Jepang. Rabu (15/4/2020) pemerintah Jepang mengimbau produsen ventilator untuk meningkatkan produksi dan memudahkan pendaftaran. (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Alat ventilator hanya ada sekitar 13.000 unit di Jepang. Yang berarti akan dipakai nantinya untuk 23 orang per satu unit apabila pasien berat Corona mencapai 300.000 orang di masa mendatang.

Baca: Polri Tak Akan Berikan Sanksi Hukum Ataupun Denda Pelanggar PSBB, Asalkan Tidak Melawan

Sementara persediaan masker juga sudah mulai berdatangan jutaan lembar dan akhir April ini diperkirakan akan kembali normal pemasaran masker di Jepang.

Di lain pihak sampah masker bekas mulai banyak terlihat bertebaran di banyak tempat di Jepang dan petugas (bagian sampah) yang mau mengambilnya kadang terasa sungkan karena takut terjangkit Corona.

Kekurangan perlengkapan medis di Jepang membuat terjadinya satu cluster (kelompok) tenaga medis terinfeksi Corona di beberapa rumah sakit di Jepang.

Diskusi mengenai Jepang dalam WAG Pecinta Jepang terbuka bagi siapa pun. Kirimkan email dengan nama jelas dan alamat serta nomor whatsapp ke: info@jepang.com

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved