Jumat, 29 Agustus 2025

PBB Ungkap Ekspor Minyak dan Batubara Korea Utara ke China Langgar Sanksi

PBB mengatakan pada panelnya, bahwa tahun lalu Korea Utara melanggar sanksi PBB dengan mengirim bantuan ke China yakni berupa perdagangan batu bara.

Penulis: Ika Nur Cahyani
The Guardian
Korea Utara Tingkatkan Perdagangan Batu Bara dan Minyak ke China 

TRIBUNNEWS.COM - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan pada panelnya bahwa tahun lalu, Korea Utara melanggar sanksi PBB dengan mengirim bantuan ke China, yakni berupa batu bara dan minyak.

Laporan tahunan yang ditujukan kepada Dewan Keamanan PBB dari para pakar itu muncul pada Jumat (17/4/2020), namun pada hari berikutnya menghilang.

Mengutip Guardian, panel itu mencatat keberatan China atas temuan bantuan ilegal tersebut. 

Baca: Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un Tak Terlihat di Peringatan Hari Ulang Tahun sang Kakek

Baca: Pelajar Asal China Diserang di Melbourne, Dipukul dan Diteriaki : Keluarlah dari Negara Kami!

Panel itu mempublikasikan sejumlah foto pengiriman kayu dan pengajuan dari negara-negara anggota.

Di dalamnya dikatakan, Korea Utara telah melanggar total larangan PBB dalam ekspor batubara serta pembatasan impor minyak sulingan.

"Pelanggaran berkelanjutan oleh Republik Rakyat Demokratik atas larangan ekspor komoditas tidak hanya merusak resolusi dewan keamanan," bunyi laporan itu.

"Tetapi juga berfungsi untuk mendanai aliran pendapatan yang secara historis berkontribusi pada program rudal nuklir dan balistik terlarang negara itu," jelasnya lebih lanjut.

Panel, mengutip data dari negara yang tidak ditentukan, memperkirakan bahwa Korea Utara mengekspor 3,7 juta ton batubara antara Januari dan Agustus tahun lalu.

Perdagangan ini menghasilkan sekitar USD 370 juta atau sekira Rp 5 Triliun.

Sebagian besar ekspor batubara ditransfer dari kapal Korea Utara ke tongkang-tongkang China.

Disinyalir, kapal ini sering berlayar di Sungai Yangtze untuk melakukan pengiriman, menurut laporan yang ada.

Pada perkembangan terbarunya, Korea Utara juga terlihat mengirim batu bara ke laut untuk diambil dari tongkang yang dapat bergerak sendiri.

Ini dilakukan supaya lebih mudah untuk menghindari deteksi, kata laporan itu.

Karena armada Korea Utara tidak diketahui termasuk tongkang semacam itu, mereka kemungkinan berasal dari China dengan 47 pengiriman dari Mei hingga Agustus tahun lalu, langsung mencapai pelabuhan di Teluk Hangzhou Cina dekat pusat ekonomi Shanghai.

Laporan itu mengatakan bahwa Korea Utara juga jauh melampaui batasan PBB dalam aturan mengimpor lebih dari 500.000 barel per tahun minyak bumi olahan.

Mengutip Amerika Serikat sebagai sumbernya, panel itu mengatakan Korea Utara telah mengimpor lebih dari 3,89 juta barel produk minyak olahan antara Januari dan Oktober 2019.

China adalah sekutu politik dan ekonomi utama Korea Utara.

Sejatinya China mendukung sanksi PBB karena frustrasi dengan uji coba nuklir dan rudal Pyongyang.

Namun pihaknya lalu melonggarkan sanksi itu setelah Kim Jong Un membekukan peluncuran rudal jarak jauh dan uji coba nuklir.

Ini terjadi setelah tiga pertemuan dengan Presiden AS, Donald Trump.

Baru-baru ini Korea Utara telah menembakkan serangkaian rudal jarak pendek di lepas pantai timurnya.

Korea Selatan menilai, tindakan ini tidak pantas dilakukan di tengah kondisi krisis Covid-19.

Sementara itu, AS bersikeras agar Korea Utara dikenakan sanksi.

Padahal sebelumnya Trump mengaku kagum dengan Kim Jong Un dan baru-baru ini mengirimkan surat rencana untuk memperbaiki hubungan kembali.

Panel PBB pada bulan Februari merilis ringkasan kesimpulannya, tetapi laporan yang lebih lengkap masih tertunda.

Laporan lengkap mengatakan bahwa Tiongkok dan Rusia telah meminta panel untuk bukti yang lebih konklusif dari temuannya.

(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan