Breaking News:

Virus Corona

Korban Covid-19 Lebih dari 10.000 Orang, Jepang Amankan Fasilitas Akomodasi Bagi Pasien Level Ringan

Ada kekhawatiran serius tentang kemungkinan terjadi kelumpuhan sistem layanan medis di berbagai tempat serta jumlah tempat tidur yang ketat.

Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Kantor PM Jepang di Nagatacho Tokyo Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Jumlah warga terpapar Covid-19 di Jepang melebihi 10.000 orang sejak Sabtu (18/4/2020) kemarin membuat tombol gerakan percepatan darurat lainnya dilakukan kantor Perdana Menteri Jepang khususnya pengamanan fasilitas akomodasi bagi pasien level rendah serta pasokan medis.

"Jumlah korban yang lebih dari 10.000 orang membuat meningkatkan kekhawatiran serius tentang kegagalan fungsi dalam sistem penyediaan layanan kesehatan di berbagai tempat, dan pemerintah telah mengamankan fasilitas untuk mengakomodasi pasien dengan penyakit level ringan. Kami akan segera mendukung peningkatan lebih lanjut dalam produksi pasokan medis seperti masker pula," ungkap sumber Tribunnews.com, Minggu (19/4/2020).

Deklarasi Darurat berdasarkan undang-undang dikeluarkan untuk 7 prefektur seperti Tokyo pada tanggal 7 April dan diperluas ke seluruh daerah sejak 17 April, sebagai antisipasi penyebaran infeksi virus corona baru masih berlanjut.

Baca: MUI hingga PBNU Imbau Umat Muslim Ibadah Ramadan di Rumah Selama Pandemi Corona

Dalam keadaan ini, ada kekhawatiran serius tentang kemungkinan terjadi kelumpuhan sistem layanan medis di berbagai tempat, jumlah tempat tidur yang ketat, dan ada juga kekurangan masker medis dan gaun medis.

Ada juga serangkaian laporan kasus di mana penolakan darurat ditolak.

Berdasarkan situasi ini, Asosiasi Medis Jepang yang dipimpin Dr Yoshitake Yokokura, mengusulkan langkah-langkah dalam berbagai bidang dari sudut pandang kedokteran klinis yang benar-benar memperlakukan pasien mulai tanggal 18 April, dalam berbagai bidang seperti pencegahan infeksi, perawatan pasien yang sakit parah, dan metode pengujian virus.

Baca: Napi yang Baru Dibebaskan Ini Lukai Petugas Saat Hendak Ditangkap karena Kasus Pencurian

Asosiasi tersebut telah melakukan Konferensi Ahli, Sabtu (18/4/2020) untuk memverifikasi dan memberi saran tentang metode pengobatan.

Pemerintah akan segera mengamankan fasilitas akomodasi dan menerima orang dengan penyakit ringan sehingga institusi medis dapat mengatasi pasien, fokus kepada yang sakit parah, dan akan mendukung peningkatan lebih lanjut dalam produksi masker yang akan dilakukan termasuk industri lain seperti produsen mobil dan peralatan listrik.

"Kami juga berupaya meningkatkan perawatan staf medis dengan, misalnya, secara khusus menaikkan biaya medis yang dibayarkan kepada lembaga medis yang menerima pasien," ujarnya.

Polisi Jepang sedang memberikan wejangan kepada warga yang berkeliaran di luar rumah, Jumat (10/4/2020) malam.
Polisi Jepang sedang memberikan wejangan kepada warga yang berkeliaran di luar rumah, Jumat (10/4/2020) malam. (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Pertemuan para ahli medis tersebut juga mengungkapkan bahwa jumlah pasien dengan rute infeksi yang tidak diketahui terus menyebar luas.

Para ahli medis sepakat untuk membentuk tim kerja para ahli untuk setiap tema.

"Di masa mendatang, kita ingin membuat basis data kasus pasien, memberikannya ke bidang medis, memberikan saran tentang obat-obatan yang dapat diharapkan efektif secara ilmiah, dan mengembangkan metode pengobatan," tambah Yokokura.

Diskusi mengenai Jepang dalam WAG Pecinta Jepang terbuka bagi siapa pun. Kirimkan email dengan nama jelas dan alamat serta nomor whatsapp ke: info@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved