Virus Corona

Pemegang Nobel Jepang: Jangan Diskriminasi Tenaga Medis, Mari Bersatu Melawan Covid-19

Yamanaka juga meminta masyarakat menjauhkan toilet umum serta tempat yang banyak orang.

Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Shinya Yamanaka kelahiran Osaka, 4 September 1962 adalah seorang dokter dan peneliti sel punca warga negara Jepang yang memperoleh Penghargaan Nobel Kedokteran tahun 2012. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Profesor Jepang pemagang nobel kedokteran, Shinya Yamanaka (57) meminta masyarakat Jepang untuk tidak mendiskriminasikan para tenaga medis yang bekerja di bidang antisipasi Covid-19 dan sekaligus berharap semua anggota masyarakat bersatu padu melawan pandemi corona.

"Tolong jangan melakukan diskriminasi kepada para tenaga medis yang menangani pandemi Corona. Selain itu kita semua harusnya bersatu padu melawan Covid-19 sehingga bisa cepat ke luar dari masalah ini," kata Prof Yamanaka, Jumat (1/5/2020) di televisi Jepang.

Pekerja medis diminta untuk melupakan sementara hal-hal negatif tersebut dan fokus bekerja untuk menyembuhkan para pasien.

"Bantu pasien, bekerja fokuskan ke sana, apa yang bisa dilakukan dengan plus alfa, nilai tambah yang ada sehingga bisa cepat menyembuhkan pasien," lanjutnya.

Selain itu Yamanaka juga meminta masyarakat menjauhkan toilet umum serta tempat yang banyak orang.

"Jauhkan toilet umum dan tempat-tempat umum yang ada di luar, tempat keramaian berisiko cukup tinggi, termasuk toilet dipakai banyak orang yang tidak kita ketahui status kesehatannya," ujarnya.

Baca: Pemain Incaran Manchester United ini Dianggap yang Terbaik di Liga Jerman

Selain itu Yamanaka juga meminta masyarakat sebanyak mungkin berdiam di rumah.

"Bersabar di rumah pasti datang waktunya nanti untuk kehidupan normal yang lebih baik lagi," lanjutnya memberikan semangat.

Menurutnya, jika masyarakat menyatukan kekuatan dan kebersamaan, menahan diri tidak ke luar rumah, maka pandemi ini dapat diatasi dengan baik.

Restoran masakan Perancis di lantai 2 sebuah gedung pertokoan di Nakano yang menuliskan pada jendela restorannya karena kesulitan keuangan.
Restoran masakan Perancis di lantai 2 sebuah gedung pertokoan di Nakano yang menuliskan pada jendela restorannya karena kesulitan keuangan. "Tolong kami yang ada di tengah Nakano" (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Yamanaka juga memperkirakan karantina diri di rumah perlu waktu satu sampai dua bulan terus menerus untuk situasi saat ini karena di luar Jepang pun corona masih menyebar luas sampai kini.

"Oleh karena itu perpanjangan masa darurat Jepang (masa darurat Jepang berakhir 6 Mei 2020) mungkin saja dilakukan dan hal itu wajar saja melihat situasi kondisi saat ini," kata dia.

Sementara itu mengenai dunia pendidikan yang diusulkan dimulai September mendatang, Yamanaka menganggapnya suatu hal yang baik karena umumnya berbagai negara juga melakukan hal yang sama.

"Oleh karena itu perlu persiapan dan kesepakatan bersama segera agar pendidikan di Jepang yang dimulai September mendatang bisa berjalan dengan baik dan lancar," lanjutnya.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved