Pengakuan Mata-mata Rusia: Melakukan Kegiatan di Jepang untuk Kumpulkan Info Tentang China

Pria kelahiran Moskow tahun 1953 itu adalah mantan letnan kolonel KGB, seorang pakar intelijen dan penulis beberapa buku dan artikel.

Foto NTV/Richard Susilo
Konstantin Georgiyevich Preobrazhenskiy (67), mantan mata-mata Rusia KGB 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Konstantin Georgiyevich Preobrazhenskiy (67), mantan mata-mata Rusia KGB mengakui melakukan kegiatan mata-mata di Jepang untuk mengumpulkan informasi mengenai China.

"Saya memang benar mata-mata di masa lalu, merekrut para pelajar China yang masuk sekolah elit seperti Universitas Tokyo, untuk mencari informasi mengenai China di masa lalu," kata Konstantin kepada Ikegami sang penyiar TV acara Nippon no Chou Nanmon (sangat susah di Jepang) saat tampil di televisi Jepang NTV, Sabtu (2/5/2020).

Kegiatan perekrutannya sejak awal meminta sang pelajar mengajarkan bahasa China kepadanya di restoran di Jepang.

"Selain saya bayar uang pelajaran bahasa China 10.000 yen, juga saya traktir makan awalnya di restoran murah," kata dia.

Setelah semakin dekat dengan pelajar China itu ditraktir ke restoran mahal seperti di dalam Hotel New Otani Tokyo.

Baca: Nasihat Kurniawan Dwi Yulianto untuk Pemain Garuda Select: Tidak Ada yang Tidak Mungkin

Konstantin yang mengakui beragama Kristen Katolik mengaku sangat stres saat menjadi mata-mata.

"Saya kalau stres ya ke gereja meminta maaf kepada Tuhan, mengaku dosa dan berdoa di sana," kata dia.

Setelah itu bekerja lagi sebagai mata-mata sesuai yang diinstruksikan atasannya. Saat itu Rusia masih bertikai dengan China sekitar tahun 1980-an.

"Itu sebabnya banyak teman saya meninggal karena stres berat saat menjadi mata-mata. Oleh karena itu sering sakit kita," lanjutnya.

Halaman
123
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved