Virus Corona

Diwawancarai TV Jepang, Profesor Italia: Rendahkan Hormon Pria Turunkan Risiko Corona

Di Jepang kemarin Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga mengungkapkan 70 persen yang terinfeksi Corona adalah pria lebih banyak ketimbang wanita.

Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Andrea Alimonti, seorang profesor di Università della Svizzera Italiana di Swiss. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Andrea Alimonti, seorang profesor di Università della Svizzera Italiana di Swiss, mengungkapkan kepada TBS TV Jepang bahwa memutus hubungan antara hormon lelaki dengan enzym akan mengurangi risiko terinfeksi virus corona.

"Kebanyakan korban Covid-19 adalah lelaki ketimbang wanita. Dari 48 negara terinfeksi Covid-19, 46 negara semuanya lelaki lebih banyak korbannya terinfeksi Covid-19," kata Andrea Alimonti, Selasa (12/5/2020).

Di Jepang kemarin Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga mengungkapkan 70 persen yang terinfeksi Corona adalah pria lebih banyak ketimbang wanita.

Hasil survei JNN kemarin juga mengungkapkan 64 persen pasien corona adalah lelaki. Di Amerika 57 persen pria dan di Spanyol 58 persen pria.

"Hormon pria menjadi salah satu pemicu risiko terinfeksi Corona lebih tinggi ketimbang wanita. Dari hormon atau produksi testosteron tersebut ada aktivasi, ada kegiatan yang menggerakkan enzym dan enzym tersebut yang berinteraksi langsung dengan virus corona," kata dia.

"Oleh karena itu kita harus turunkan aktivasi tersebut agar interaksi enzym dengan virus pun menurun sehingga risiko juga menurun," jelasnya.

Perlambatan aktivasi tersebut dengan terapi yang disebut androgen deprivation therapies (ADT).

Baca: Mengenal Funazushi, Sushi Tertua di Jepang yang Menggunakan Ikan Fermentasi

Hal tersebut juga diterapkan kepada para pasien kanker di Jepang yang memblokir testosteron dengan hasil, dari 1.000 pasien terinfeksi corona, terdapat satu pasien memiliki kanker dan tingkat kematian nol.

Tetapi tanpa terapi tersebut, dari 1.000 pasien, 3 pasien memiliki kanker dan 18 orang meninggal dunia.

Profesor Alimonti juga mengatakan mereka harus terus memblokir testosteron mereka selama risiko tertular virus corona tetap tinggi.

Baca: Ahli Waris Gugat Pembeli 72 Merek Dagang Jamu Nyonya Meneer terkait Hak Cipta

Alimonti mencatat kadar testosteron akan kembali normal setelah pasien berhenti melakukan terapi tersebut.

Diskusi mengenai Jepang dalam WAG Pecinta Jepang terbuka bagi siapa pun. Kirimkan email dengan nama jelas dan alamat serta nomor whatsapp ke: info@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved