Breaking News:

Virus Corona

Malaysia Tujuh Hari Tak Laporkan Kasus Kematian akibat Covid-19

Pada Jumat (29/5/2020) kemarin, Malaysia memasuki hari ketujuh nol kasus kematian akibat Covid-19.

GOH CHAI HIN / AFP
Pembeli membeli produk segar di pasar pada hari ketiga lockdown sebagian di Malaysia di tengah kekhawatiran penyebaran virus corona COVID-19 di Penang pada 20 Maret 2020. 

TRIBUNNEWS.COM - Pada Jumat (29/5/2020), Malaysia memasuki hari ketujuh nol kasus kematian akibat Covid-19.

Bersama pengumuman itu, Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat 103 kasus infeksi corona baru secara nasional, dikutip dari CNA

Sehingga, kini Negeri Jiran telah mengantongi 7.732 kasus infeksi dan 115 kematian.

Adapun pasien yang sudah sembuh berjumlah 6.235.

"Dari 103 kasus baru yang dilaporkan, tujuh adalah kasus impor yang terinfeksi di luar negeri," kata Direktur Jenderal Kesehatan, Dr Noor Hisham Abdullah.

Baca: Malaysia dan Turki akan Berbagi Pengalaman Sekaligus Kembangkan Vaksin Covid-19

Baca: PM Muhyiddin Yassin: Malaysia dan Turki Kerja Sama Kembangkan Vaksin Covid-19

Seorang penarik becak di Penang tampak kelaparan dan makan di tempat terbuka, saat social distancing dan lockdown untuk mengantisipasi penyebaran wabah virus corona (Covid-19) diberlakukan di Malaysia.
Seorang penarik becak di Penang tampak kelaparan dan makan di tempat terbuka, saat social distancing dan lockdown untuk mengantisipasi penyebaran wabah virus corona (Covid-19) diberlakukan di Malaysia. (THE STAR)

Kasus impor itu berasal dari Arab Saudi, Mesir, dan Australia, menurut rilis kementerian kesehatan di akun Twitter-nya.

"Di antara 96 ‚Äč‚Äčtransmisi lokal, 84 pasien adalah orang asing," kata Dr Noor Hisham pada konferensi pers harian.

Sementara itu dua belas dari kasus Covid-19 yang baru adalah orang Malaysia.

Dr Noor Hisham mengatakan delapan kasus masih dirawat di unit perawatan intensif dengan dua memerlukan dukungan ventilator.

Namun, Malaysia baru saja mengidentifikasi klaster baru yang melibatkan pekerja asing di sebuah perusahaan pembersih.

Dr Noor Hisham mengatakan 24 kasus dilaporkan terjadi di antara para pekerja Bangladesh di sebuah klinik swasta.

Baca: Pertama Kali Syuting di Tengah Pandemi, Hotman Paris Bawa Perlengkapan Anti Corona

Baca: Polda Papua Bantah Ada Tahanan Positif Corona, Itu Hoax

Kasus-kasus ini terungkap setelah adanya skrining anggota staf klinik tersebut.

"Pemutaran sedang dilakukan sebagai inisiatif oleh pengusaha. Dari 150 pekerja asing di perusahaan yang diskrining, 126 dinyatakan negatif untuk Covid-19."

"Dari 24 kasus positif, 20, tinggal di sebuah asrama di Kuala Langat, Selangor dan sedang dirawat di Rumah Sakit Sungai Buloh, Selangor."

"Empat kasus lainnya tinggal di sebuah apartemen di Nilai, Negeri Sembilan dan sedang dirawat di Tuanku Rumah Sakit Ja'afar, Seremban," katanya.

Sejauh ini sudah ada 428 kontak yang berhasil ditelusuri pemerintah Malaysia demi mencegah penularan lebih lanjut.

Menurut otoritas kesehatan, sebagian besar kasus impor berasal dari warga asing yang tinggal di area padat dan sempit.

Sehingga kemungkinan besar jarak sosial sulit dipraktikkan.

Dr Noor Hisham mengatakan kondisi ini tentu mendukung penyebaran virus corona lebih cepat.

Ilustrasi Coronavirus. Setelah 7 karyawan sebuah pusat grosir di Sleman Yogyakarta positif covid-19, pengunjung lakukan tes rapid massal.
Ilustrasi Coronavirus. (CNN)

Baca: Melanggar Lockdown, 23 Warga di Malaysia Kena Hukuman Denda Rp 3,5 Juta

Baca: Bertambah 49 Orang, Total 157 WNI di Malaysia Terpapar Covid-19

Setelah penemuan klaster ini, Dr Noor Hisham juga mengimbau agar pengusaha mematuhi prosedur operasi standar (SOP).

Termasuk diantaranya melakukan pengecekan kepada pekerja asing sehingga wabah dapat dikendalikan.

Dalam rangka menanggulangi wabah corona, Malaysia meningkatkan pemantauan pada perbatasannya.

Ini dilakukan untuk mencegah orang asing masuk melalui rute ilegal sehingga berpotensi membawa virus corona.

Pada Kamis (28/5/2020), Menteri Senior, Ismail Sabri Yaakob, mengatakan lebih dari 300 imigran ilegal ditangkap di perbatasan bulan ini.

"Pemerintah menganggap serius masuknya imigran gelap ke negara itu dan kami merasakan ketakutan, terutama saat ini (dari pandemi Covid-19)," katanya.

(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved