Breaking News:
Deutsche Welle

Studi: Indonesia Berhasil Tekan Deforestasi, Tapi Masih Tiga Besar Dunia 

Dalam laporan terbaru World Resources Institute (WRI), Brasil, Republik Demokratik Kongo, dan Indonesia menjadi tiga negara teratas…

Laporan terbaru World Resources Institute (WRI), yang dirilis Selasa (02/06) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2019 dunia kehilangan tutupan pohon hutan primer seluas 11,9 juta hektar. Hampir sepertiga dari angka tersebut -3,8 juta hektar- terjadi di hutan primer tropis. Jika dianalogikan, berarti dunia kehilangan hutan primer tropis seluas satu lapangan sepak bola setiap enam detik.

Laporan ini dibuat berdasarkan data dari University of Maryland yang dirilis dalam proyek Global Forest Watch (GFW), yang bertujuan untuk memberikan data spasial kehutanan kepada pemerintah global yang nantinya dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan pengawasan hutan di wilayah mereka.

Para peneliti telah melakukan survei ini sejak dua dekade. Dari data tersebut diketahui persentase kehilangan hutan primer tropis meningkat 2,8% dibanding tahun sebelumnya. Brasil menjadi negara yang mengalami kehilangan terbesar hutan primer (1.361.000 hektar), disusul Republik Demokratik Kongo (475.000 hektar), dan Indonesia (324.000 hektar).

"Kami prihatin bahwa tingkat kehilangan begitu tinggi, terlepas dari semua upaya berbagai negara dan perusahaan untuk mengurangi deforestasi," kata ketua peneliti Mikaela Weisse, manajer proyek GFW di World Resources Institute (WRI).

Aktivitas manusia seperti penebangan dan pembakaran hutan untuk pembukaan lahan menjadi penyebab utama hilangnya hutan primer global. Hal ini diperparah dengan ancaman perubahan iklim yang semakin nyata. Hutan merupakan tempat “penguncian” karbon, sehingga kehilangan hutan berarti sama dengan melepaskan karbon ke atmosfer. Sedikitnya 1,8 Gg CO2e dilepas ke atmosfer sepanjang tahun 2019, setara dengan emisi tahunan 400 juta kendaraan bermotor.

"Dibutuhkan waktu puluhan tahun atau bahkan berabad-abad bagi hutan-hutan ini untuk kembali ke keadaan semula,” Weisse menambahkan.

Menurun di Indonesia

Meski menempati urutan ketiga negara dengan deforestasi tertinggi di dunia, Indonesia dinilai berhasil meredam laju penggundulan hutan, yang angkanya turun 5% dibanding tahun 2018. Ini menjadi tahun ketiga berturut-turut Indonesia mampu menekan angka kehilangan hutan primer.

Dalam laporan tersebut dituliskan bahwa kebijakan pemerintah Indonesia turut berkontribusi dalam penurunan ini. Kepada DW Indonesia, Senior Manajer WRI Indonesia, Arief Wijaya, mengatakan, perbaikan tata kelola hutan dan lahan yang dilakukan pemerintah Indonesia mulai membuahkan hasil.

“Pertama, mulai dari penegakan hukum, aktor-aktor yang disinyalir atau bertanggung jawab terhadap kebakaran hutan itu diseret ke pengadilan. Kedua restorasi gambut menjadi fokus. KLHK juga punya dirjen PPKL yang untuk restorasi gambut, kemudian pemerintah membetuk BRG (Badan Restorasi Gambut) juga yang bertanggung jawab untuk merestorasi 2,6 juta hektar lahan gambut yang terdegradasi di 7 provinsi prioritas,” jelas Arief saat dihubungi DW Indonesia, Rabu (03/06).

Selain itu, program-program CSR dari perusahaan-perusahaan swasta di Indonesia dan moratorium hutan yang diterbitkan pada tahun 2011 juga turut andil dalam penurunan angka kehilangan hutan primer. “Konversi hutan primer dan lahan gambut sekarang sudah tidak boleh. Ada juga moratorium sawit, jadi pemberian izin baru untuk perluasan lahan sawit juga sudah tidak diperbolehkan,” Arief menambahkan.

Halaman
12
Berita Populer
Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved