Breaking News:

Pemilihan Gubernur Tokyo Jepang, 66 Juta Yen Masuk ke Kas Pemilu Tokyo

Voting telah dimulai pada Minggu (5/7/2020) jam 07.00 pagi waktu Jepang di lebih dari 1.800 TPS (Tempat Pemungutan Suara) di Tokyo.

Foto Asahi
Gubernur Tokyo, Yuriko Koike. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Komisi Pemilihan Metropolitan Tokyo telah mendapatkan uang sebesar 66 juta yen dari pendaftaran 22 kandidat Gubernur Tokyo pada pemilihan Gubernur Tokyo yang berlangsung hari ini, Minggu (5/7/2020).

Sementara jumlah pemilih sampai saat ini telah meningkat 12 persen dibandingkan pemilu-pemilu di masa sebelumnya.

Menurut Komisi Pemilihan Metropolitan Tokyo, jumlah orang yang memilih lebih awal pada tanggal 3 Juli 2020 adalah sekitar 1,38 juta pemilih, yang merupakan 12 persen dari semua pemilih, meningkat lebih dari 60.000 orang dari waktu sebelumnya.

Gubernur Tokyo, Yuriko Koike.
Gubernur Tokyo, Yuriko Koike. (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Baca: Jelang Pemilihan Gubernur Tokyo Jepang, Kehidupan Pribadi Yuriko Koike Mulai Diusik

Baca: Oposisi Jepang Masih Cari Kandidat untuk Pemilihan Gubernur Tokyo

Voting telah dimulai pada Minggu (5/7/2020) jam 07.00 pagi waktu Jepang di lebih dari 1.800 TPS (Tempat Pemungutan Suara) di Tokyo, dan batas waktu akan ditutup pada jam 8 malam.

Sementara perhitungan suara akan diumumkan pada hari ini juga.

Meskipun demikian dipastikan Yuriko Koike akan menjadi Gubernur Tokyo terpilih kedua kalinya mengingat kekuatan dukungan yang luar biasa dari beberapa partai politik yang ada di Jepang.

Gubernur Tokyo Yuriko Koike sudah menjadi pesaing terkuat menjelang Pemilihan Gubernur 5 Juli 2020, dengan partai-partai oposisi utama mengalami kesulitan menemukan kandidat yang baik.
Gubernur Tokyo Yuriko Koike sudah menjadi pesaing terkuat menjelang Pemilihan Gubernur 5 Juli 2020, dengan partai-partai oposisi utama mengalami kesulitan menemukan kandidat yang baik. (AFP-JIJI)

Dalam kampanye pemilu yang diikuti 22 kandidat--jumlah terbesar kandidat dibandingkan masa lalu--ada perdebatan tentang langkah-langkah terhadap coronavirus baru dan tanggapan terhadap Olimpiade Tokyo serta Paralimpiade, yang ditunda selama satu tahun.

Di sisi lain, selama periode pemilihan, infeksi baru dikonfirmasi di Tokyo satu demi satu, dan para kandidat menahan diri dari mengadakan pertemuan dan berjabatan tangan.

Komisi Pemilihan juga menghindari kerumunan orang di tempat pemungutan suara.

Baca: Gubernur Tokyo Jepang Perkirakan Pertempuran dengan Corona akan Mengakibatkan Perang Jangka Panjang

Baca: Gubernur Tokyo Belum Pertimbangkan untuk Batalkan Olimpiade 2020

Karena itu, hal ini menjadi kampanye pemilihan yang luar biasa, seperti menyerukan penggunaan aktif pemungutan suara awal serta berusaha menjauhkan kerumunan banyak orang antara kandidat dan calon pemilih.

Diskusi mengenai Jepang dalam WAG Pecinta Jepang terbuka bagi siapa pun. Kirimkan email dengan nama jelas dan alamat serta nomor whatsapp ke: info@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved