Breaking News:

Virus Corona

Corona Bebani Ekonomi Global, 400 Juta Orang Kehilangan Pekerjaan

ILO memperkirakan jam kerja global turun hingga 14 persen pada kuartal kedua 2020 karena dampak dari pandemi virus corona

Dok. Jobplanet
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, NEW YORK - Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperkirakan jam kerja global turun hingga 14 persen pada kuartal kedua 2020 karena dampak dari pandemi virus corona (Covid-19).

Penurunan ini setara dengan hilangnya 400 juta pekerjaan full time secara global pada kuartal kedua, berdasarkan standar 48 jam kerja dalam seminggu.

Dikutip dari laman Russia Today, Senin (6/7/2020), ILO sebelumnya memproyeksikan penurunan sebesar 10,7 persen untuk jam kerja atau hilangnya 305 juta pekerjaan pada periode tersebut.

Menurut laporan itu, Amerika menjadi wilayah yang paling terkena dampak, dengan perkiraan penurunan jam kerja sebesar 18,3 persen atau 70 juta pekerjaan full time.

Dalam laporan tersebut, ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan ekonomi secara global ini, seperti jam kerja yang lebih pendek, cuti sementara, hingga pengangguran.

Agen tenaga kerja Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ILO, telah menguraikan tiga skenario berbeda untuk pemulihan pasar tenaga kerja pada paruh kedua tahun ini.

Dalam model dasarnya, ILO memproyeksikan penurunan 4,9 persen dalam jam kerja, atau 140 juta orang kehilangan pekerjaan full time.

Skenario pesimistis akan melihat adanya penurunan 11,9 persen jam kerja, atau 340 juta orang kehilangan pekerjaan.

Hal ini didasarkan pada dugaan terjadinya gelombang kedua kasus corona, mendorong kembali diterapkannya sistem pembatasan dan penguncian (lockdown).

Oleh karena itu, ini mengindikasikan bahwa akan terjadi pemulihan ekonomi yang sangat lambat.

Sementara skenario model optimis akan berhasil pada penurunan sekitar 1,2 persen dalam jam kerja, atau hanya 34 juta orang yang diprediksi mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Direktur Jenderal ILO Guy Ryder mengatakan bahwa pihaknya tengah berupaya keras untuk menghadapi krisis ini.

"Keputusan yang kami ambil sekarang akan bergema di tahun-tahun mendatang dan setelah 2030. Kita perlu melipatgandakan upaya kita jika ingin keluar dari krisis ini," tegas Ryder.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved