Breaking News:
Deutsche Welle

John Bolton: Trump Gagal ‘Menghargai‘ Sepenuhnya Kepresidenan AS

Mantan penasihat keamanan nasional John Bolton mengungkapkan ‘ketidakpercayaan’ Donald Trump pada para stafnya dalam wawancara…

Empat bulan sebelum pemilihan presiden AS, sejumlah survei menunjukkan Donald Trump sedang mengalami kemerosotan. Kaum konservatif yang tidak puas menyebutnya tidak kompeten dan berkampanye melawan presiden dari Partai Republik, dengan isu kurva kasus virus corona di AS, jutaan warga Amerika yang menganggur, dan protes besar-besaran pembunuhan George Floyd. Mereka lalu mendukung Joe Biden, calon presiden dari Partai Demokrat.

John Bolton, salah satu dari tiga mantan penasihat keamanan nasional AS yang dipecat Donald Trump, berbincang dengan jurnalis DW Tim Sebastian untuk membahas pandangannya terhadap kepresidenan Trump.

John Bolton baru saja menerbitkan buku "The Room Where It Happened" dan menggambarkan Presiden AS itu sebagai pemimpin yang tidak memiliki kompetensi untuk menjabat sebagai presiden, jarang membaca apalagi mempelajari materi pengarahan tentang masalah keamanan nasional yang kompleks, dan mengagumi orang-orang pyang meragukan.

Bolton menyebut pertikaian internal di Gedung Putih sebagai bagian dari gaya manajerial Trump. "Saya pikir Trump sangat tidak percaya, tidak hanya pada birokrasi secara keseluruhan, tetapi bahkan pada pra stafnya sendiri."

"Dia masih belum sepenuhnya menghargai apa artinya menjadi presiden Amerika Serikat," tambah Bolton.

Iri kepada Putin

Ketika ditanya perihal kekaguman Trump terhadap para diktator, John Bolton mengatakan,:"Saya bukan ahli kejiwaan, saya tidak menganalisis perilaku orang." Tapi ia menceritakan bahwa "Trump, dalam hal tertentu, iri pada apa yang dimiliki Presiden Cina Xi Jinping dan pimpinan Rusia Vladimir Putin. Trump senang kalau bisa berbicara dengan para 'tokoh besar'.

“Apakah Trump takut dengan presiden Rusia?” tanya Tim Sebastian.

"Saya merasa dia (Trump) tidak takut padanya (Putin)," jawab John Bolton.

"Ada banyak yang perlu dikritik, tetapi ketika orang-orang melebihi apa yang mereka butuhkan untuk memberikan kritik, itu tidak memperkuat masalah terhadap Trump. Hal itu yang memberanikan para pendukungnya untuk mengatakan bahwa kita adalah korban konspirasi."

Apakah Trump memang berusaha mengintervensi proses pengadilan seperti yang ditulis John Bolton dalam bukunya? "Saya bukan seorang jaksa penuntut," kata Bolton, tetapi ia menambahkan bahwa dirinya telah melaporkan keputusan-keputusan janggal (yang diambil Trump) kepada Jaksa Agung dan penasihat hukum Gedung Putih.

Halaman
1234
Berita Populer
Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved