Breaking News:

Presiden Donald Trump akan Larang TikTok di Amerika Serikat

Presiden Donald Trump mengumumkan dia melarang TikTok di Amerika Serikat (AS).

JIM WATSON / AFP
Presiden AS Donald Trump duduk dengan tangan bersilang saat diskusi meja bundar tentang Pembukaan Kembali Sekolah-Sekolah Amerika yang Aman selama pandemi, di Ruang Timur Gedung Putih pada 7 Juli 2020, di Washington, DC. 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Donald Trump mengumumkan dia melarang TikTok di Amerika Serikat (AS).

Bahkan Trump mengatakan kepada wartawan, dia bisa menandatangi perintah esekutif pada Sabtu (1/8/2020).

Mengutip BBC, pejabat keamanan AS juga menyatakan keprihatinannya atas aplikasi berbagi video milik China ByteDance.

Pejabat keamanan AS mengklaim, TikTok digunakan untuk mengumpulkan data pribadi warga Amerika.

Baca: Pakistan Blokir Bigo Live dan Peringatkan TikTok, Pernah Kirim Ratusan Keluhan ke Facebook & Twitter

Baca: Reaksi Dunia soal UU Keamanan Nasional Hong Kong, Boikot Film Mulan hingga Tawari Izin Tinggal

WASHINGTON, DC - 14 JULI: Presiden AS Donald Trump berbicara kepada media di Rose Garden di Gedung Putih pada 14 Juli 2020 di Washington, DC. Presiden Trump berbicara tentang beberapa topik termasuk kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden, pasar saham dan hubungan dengan China ketika coronavirus terus menyebar di AS, dengan hampir 3,4 juta kasus yang dikonfirmasi.
WASHINGTON, DC - 14 JULI: Presiden AS Donald Trump berbicara kepada media di Rose Garden di Gedung Putih pada 14 Juli 2020 di Washington, DC. Presiden Trump berbicara tentang beberapa topik termasuk kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden, pasar saham dan hubungan dengan China ketika coronavirus terus menyebar di AS, dengan hampir 3,4 juta kasus yang dikonfirmasi. (Drew Angerer / Getty Images / AFP)

Mengenai tuduhan yang dilayangkan AS ini, TikTok membantahnya.

Pihak TikTok menegaskan tak ada data yang 'dibagi' dengan pemerintah China.

"Sejauh menyangkut TikTok, kami melarang mereka dari Amerika Serikat," kata Trump kepada wartawan di Air Force One.

Namun, belum ada rincian tentang apa yagn dilarang Trump terkait TikTok di AS, atau bagaimana larangan tersebut akan ditegakkan dan tantangan hukum apa yang akan dihadapi.

Baca: 2 Influencer Perempuan di Mesir Dipenjara atas Tuduhan Konten TikTok Tak Bermoral

CEO TikTok: Kami Bukan Musuh

Lebih jauh, para pejabat dan politisi AS mengaku merasa khawatir dengan data yang dikumpulkan ByteDance melalui TikTok.

CEO TIkTok Kevin Mayer memberikan tanggapannya melalui unggahan yang diakses dari newsroom.tiktok.com.

"Kami tidak berpolitik, kami tidak menerima iklan politik dan tidak memiliki agenda," tulis Kevin.

"Satu-satunya tujuan kami adalah tetap menjadi platform yang dinamis untuk dinikmati semua orang," papar Kevin.

"TikTok menjadi target terbaru, tetapi kami bukan musuh," ungkap Kevin.

Mengutip BBC, Kevin Mayer pernah mengatakan, data pengguna aplikasi tidak disimpan di China.

Perusahaan juga mengatakan, mereka tidak akan memenuhi permintaan pemerintah China untuk menyensor konten atau memberikan akses ke data penggunanya.

Lagipula TikTok mengklaim tidak pernah diminta untuk melakukan hal tersebut.

Baca: Di Mesir, Berjoget di TikTok dan Media Sosial Terancam 5 Tahun Penjara

Pakistan Peringatkan TikTok

Selain AS, negara lain juga dengan keras memperingatkan TikTok, satu di antaranya yakni Pakistan.

Sebelumnya, Pakistan juga dilaporkan memblokir platform Bigo Live yang barbasis di Singapura.

Mengutip dari apnews.com, otoritas pengawas mengatakan ada keluhan yang cukup luas tentang ‘konten tidak bermoral, 'cabul' dan vulgar’, pada aplikasi tersebut,

Dalam sebuah pernyataan, Otoritas Telekomunikasi Paksitan mengatakan, konten pada media platform tersebut data memiliki etek negatif.

“Efeknya sangat negatif pada masyarakat pada umumnya, khususnya kaum muda,” kata keterangan itu, tanpa rincian lebih lanjut.

Baca: Aplikasi Bigo Live Hadirkan Live Streaming Informasi Covid-19 dengan Ahli Kesehatan

Sebuah cuitan Twitter dari pihak berwenang mengatakan, mereka mengeluh kepada perusahan yang menaungi platform tersebut.

“Respon dari perusahaan ini belum ‘memuaskan’,” terang pihak berwenang Pakistan.

Baca: Boikot Sejumlah Perusahaan Besar di AS Bikin Bos Facebook Mark Zuckerberg Kehilangan Rp 100 Triliun

Baca: India Boikot 59 Aplikasi Ponsel Milik China di Tengah Sengketa Perbatasan, Termasuk TikTok

TikTok Jadi Aplikasi Populer di Kalangan Muda Pakistan

Sebagaimana diketahui, baik TikTok, yang dimiliki raksasa teknologi Beijing ByteDance dan Bigo Live milik perusahaan Singapura digandrungi kawula muda.

Kalangan remaja dan dewasa muda di Pakistan pun menyukai aplikasi ini.

Dalam sebuah wawancara telepon, Kelompok Hak Media Sosial berbasis di Islamabad, BytesForAll, Shahzad Ahmad buka suara.

Ilustrasi aplikasi Tiktok di smartphone - Pakistan Blokir Bigo Live dan Peringatkan TIkTok, Pernah Kirim Ratusan Keluhan ke Facebook & Twitter
Ilustrasi aplikasi Tiktok di smartphone - Pakistan Blokir Bigo Live dan Peringatkan TIkTok, Pernah Kirim Ratusan Keluhan ke Facebook & Twitter (searchenginejournal.com)

Hampir 70 persen dari 220 juta populasi merupakan pengguna TikTok, kata Ahmad.

“Pemerintah tengah menguji sejauh mana mereka bisa menyensor,” terangnya.

Dia menyebut langkah ini merupakan awal bagi digalakkannya penyensoran di Pakistan.

TikTok Tarik Aplikasinya dari Hong Kong

TikTok akan menarik aplikasinya dari Hong Kong pasca sahnya UU Keamanan Nasional yang diberlakukan Beijing.

Aplikasi berbasis video ini dimiliki ByteDance yang berbasis di China.

TikTok secara konsisten membantah tuduhan membagikan data pengguna kepada pemerintah dan menolak bila ada permintaan tersebut.

Aplikasi ini diperkirakan akan membutuhkan beberapa hari untuk menghentikan operasi di Hong Kong.

Seorang juru bicara mengatakan keputusan ini dibuat dengan pertimbangan kondisi akhir-akhir ini.

"Mengingat peristiwa baru-baru ini, kami telah memutuskan untuk menghentikan operasi aplikasi TikTok di Hong Kong," kata seorang juru bicara kepada BBC

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

 
Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Sri Juliati
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved