Irak Tuntut Pasukan AS Mundur pada Saat Peringatan Setahun Kematian Qassem Soleimani
Mereka juga membawa spanduk dengan slogan-slogan bertuliskan tuntutan penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari Irak.
TRIBUNNEWS.COM - Peringatan kematian Jenderal Qassem Soleimani dan Komandan Abu Mahdi al-Muhandis ditandai dengan berkumpulnya ribuan orang turun ke jalan menuju Lapangan Tahrir sejak Minggu pagi (3/1/2021)
Massa terlihat mengangkat poster Qassem Soleimani dan Al-Muhandis serta bendera Irak.
Mereka juga membawa spanduk dengan slogan-slogan bertuliskan tuntutan penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari Irak.
Kelompok yang memenuhi jalan itu pun menyerukan pembalasan atas pembunuhan tokoh terkenal tersebut.
Baca juga: Peringatan Kematian Mayjen Qasem Soleimani, Iran Kembali Kutuk Perbuatan AS
Baca juga: AS dan Iran Saling Tuduh Tingkatkan Aktivitas Militer Jelang Peringatan Tewasnya Qassem Soleimani
Koresponden Al Jazeera, Charles Statford melaporkan, massa menuntut semua pasukan AS yang tersisa di Irak ditarik secara segera dan cepat.
"Mereka juga menuntut kelanjutan dari jenis retorika panas yang telah kita dengan sebelum peringatan pembunuhan Pemimpin Pengawal Revolusi, Qassem Soleimani."
"Mereka menuntut dan menjanjikan balas dendam," tutur Statdford.
Peringatan kematian Qassem Soleimani telah dimulai sejak Sabtu malam (2/1/2021) ketika ribuan massa berpakaian hitam berkumpul di dekat Bandara Internasional Baghdad.
Poster berukuran raksasa Qassem Soleimani dan Al-Muhandis digantung di atas alun-alun.
Pada akhir 2019 lalu, lokasi tersebut menjadi pusat protes besar anti-pemerintah.
Di tengah ketegangan, warga Irak dan banyak orang di kawasan yang lebih luas mengawasi tanda-tanda peningkatan tekanan, sebelum Presiden AS Donald Trump meninggalkan Gedung Putih pada 20 Januari 2021 mendatang.
Baca juga: PM Jepang Janji Vaksinasi Dimulai Paling Lambat Akhir Februari 2021
AS dan Iran Saling Tuduh Tingkatkan Aktivitas Militer Jelang Peringatan Tewasnya Qassem Soleimani
Sebelumnya diberitakan, AS dan Iran saling tuduh meningkatkan ketegangan di Teluk Persia karena kekhawatiran ada potensi konflik yang muncul beberapa hari sebelum peringatan satu tahun kematian Jenderal Qassem Soleimani.
Pada Kamis (31/12/2020), Iran meminta Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan AS melakukan peningkatan "petualangan militer" di Teluk dan Laut Oman, termasuk mengirim pembom berkemampuan nuklir ke wilayah tersebut.
Mengutip CNN, Iran pun menyatakan, mereka tidak menginginkan konflik tetapi akan membela diri jika perlu.
Awal pekan ini, pejabat pertahanan mengatakan kepada CNN, pihak intelijen menunjukkan Iran telah memindahkan rudal balistik jarak pendek ke Irak.
Baca juga: Poster Qassem Soleimani Picu Kontroversi di Jalur Gaza
Baca juga: Soal Peringatan Kematian Qassem Soleimani, Iran Sebut Trump Cari Alasan untuk Menyerang
Aktivitas militer yang semakin cepat ini juga diimbangi dengan retorika.
Presiden Donald Trump, yang dilaporkan meminta opsi militer untuk menangani Iran pada November 2020 , men-tweet minggu lalu, dia akan "meminta pertanggungjawaban Iran" jika ada orang Amerika yang terbunuh.
Media Israel memperkuat laporan surat kabar Arab yang mengutip sumber AS yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan, Israel dan Arab Saudi sedang melobi Trump untuk menyerang fasilitas nuklir Iran sebelum dia meninggalkan kantor.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/peringatan-kematian-qassem-soleimani.jpg)