Muncul Laporan Perkosaan Massal kepada Muslim Uighur di China, AS Serukan Investigasi

Amerika Serikat merasa 'sangat terganggu' soal laporan pemerkosaan sistematis dan pelecehan seksual terhadap wanita Muslim Uighur di Xinjiang, China.

Penulis: Ika Nur Cahyani
Editor: Daryono
HECTOR RETAMAL / AFP
Ilustrasi - Dipenjara Tujuh Tahun karena Punya Tujuh Anak: Kisah Abdushukur Umar, Warga Uighur di Xinjiang China 

TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat merasa 'sangat terganggu' soal laporan pemerkosaan sistematis dan pelecehan seksual terhadap wanita Muslim Uighur di Xinjiang, China.

Departemen Luar Negeri AS pada Rabu (3/1/2021) menyerukan bahwa China harus menerima konsekuensi dari kekejaman tersebut.

Diketahui warga etnis Uighur dan Muslim ditempatkan di kamp-kamp khusus oleh pemerintah Tiongkok.

BBC pada Rabu (3/2/2021) menulis laporan soal adanya pemerkosaan, pelecehan seksual, dan penyiksaan yang dialami wanita di dalam kamp tersebut.

"Beberapa mantan tahanan dan seorang penjaga mengatakan kepada BBC bahwa mereka mengalami atau melihat bukti dari sistem pemerkosaan massal, pelecehan seksual, dan penyiksaan yang terorganisir," cuplikan laporan itu.

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengaku prihatin dan terganggu dengan laporan itu.

"Kami sangat terganggu oleh laporan, termasuk kesaksian langsung, pemerkosaan sistematis dan pelecehan seksual terhadap wanita di kamp-kamp interniran untuk etnis Uighur dan Muslim lainnya di Xinjiang," katanya dikutip dari CNA

China dituding mengeluarkan kebijakan kontrol kelahiran yang berat sebelah antara etnis Han dan kaum minoritas, FOTO: Gambar diambil pada 4 Juni 2019 menunjukkan seorang wanita Uighur bersama dengan anak-anak di sebuah jalan di Kashgar di wilayah Xinjiang barat laut Cina. Otoritas China melakukan sterilisasi paksa terhadap perempuan dalam operasi menahan pertumbuhan populasi etnis minoritas di wilayah Xinjiang barat, menurut penelitian yang diterbitkan pada 29 Juni 2020.
China dituding mengeluarkan kebijakan kontrol kelahiran yang berat sebelah antara etnis Han dan kaum minoritas, FOTO: Gambar diambil pada 4 Juni 2019 menunjukkan seorang wanita Uighur bersama dengan anak-anak di sebuah jalan di Kashgar di wilayah Xinjiang barat laut Cina. Otoritas China melakukan sterilisasi paksa terhadap perempuan dalam operasi menahan pertumbuhan populasi etnis minoritas di wilayah Xinjiang barat, menurut penelitian yang diterbitkan pada 29 Juni 2020. (GREG BAKER / AFP)

Baca juga: Twitter Kunci Akun Kedubes AS di China Karena Membela Kebijakan China Terhadap Muslim Uighur

Baca juga: AS Tuduh China Melakukan Genosida Terhadap Muslim Uighur dan Etnis Minoritas Lainnya

Juru bicara itu mengulangi tuduhan AS bahwa China melakukan kejahatan kemanusiaan dan genosida di Xinjiang.

"Kekejaman ini mengejutkan hati nurani dan harus dihadapi dengan konsekuensi serius," tegasnya.

Menurutnya, China harus mengizinkan penyelidikan independen dari pihak internasional terhadap dugaan pemerkosaan terorganisir ini.

Sekali lagi Beijing membantah tuduhan tersebut.

Pihaknya mengatakan kamp didirikan untuk pelatihan kejuruan dan menghilangkan paham ekstremisme serta separatisme Islam.

Foto yang diambil pada 31 Mei 2019 ini memperlihatkan sebuah menara kawal di fasilitas berkeamanan tinggi dekat tempat yang dipercaya sebagai kamp re-edukasi yang menahan minoritas Uighur. Fasilitas ini berada di pinggiran Hotan, Xinjiang barat laut, China. Amerika Serikat pada 31 Juli 2020 menjatuhkan sanksi kepada organisasi paramiliter Xinjiang Production and Construction Corps (XPCC) karena diduga memiliki kaitan dengan pelanggaran HAM terhadap muslim Uighur.
Foto yang diambil pada 31 Mei 2019 ini memperlihatkan sebuah menara kawal di fasilitas berkeamanan tinggi dekat tempat yang dipercaya sebagai kamp re-edukasi yang menahan minoritas Uighur. Fasilitas ini berada di pinggiran Hotan, Xinjiang barat laut, China. Amerika Serikat pada 31 Juli 2020 menjatuhkan sanksi kepada organisasi paramiliter Xinjiang Production and Construction Corps (XPCC) karena diduga memiliki kaitan dengan pelanggaran HAM terhadap muslim Uighur. (GREG BAKER / AFP)

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin menilai laporan BBC itu tidak benar.

Wenbin menuduh orang yang diwawancarai dalam laporan terbukti sebagai penyebar informasi palsu.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved