Breaking News:

Trump Kembali Lolos dari Pemakzulan, Biden: Bagian Menyedihkan dalam Sejarah Kita

Tanggapan Biden ini disampaikan beberapa jam setelah Senat gagal mengumpulkan mayoritas dua pertiga suara yang diperlukan untuk memvonis Trump

MANDEL NGAN/AFP
Presiden AS Joe Biden bersiap untuk menandatangani perintah eksekutif tentang perawatan kesehatan yang terjangkau di Kantor Oval Gedung Putih di Washington, DC, pada 28 Januari 2021. Perintah tersebut termasuk membuka kembali pendaftaran di Undang-Undang Perawatan Terjangkau federal. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menanggapi pembebasan Donald Trump dari pemakzulan atas tuduhan menghasut pemberontakan.

Biden  mengatakan pembebasan oleh Senat terhadap mantan Presiden Donald Trump adalah pengingat betapa rapuhnya demokrasi.

Dan untuk itu setiap warga Amerika memiliki kewajiban untuk membela kebenaran.

"Babak menyedihkan dalam sejarah kita ini telah mengingatkan kita bahwa demokrasi itu rapuh," kata Biden dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Reuters, Senin (15/2/2021).

Tanggapan Biden ini disampaikan beberapa jam setelah Senat gagal mengumpulkan mayoritas dua pertiga suara yang diperlukan untuk memvonis Trump.

Biden mencatat 57 senator memilih untuk menyatakan Trump bersalah, menyusul pemungutan suara bipartisan oleh DPR untuk memakzulkan mantan presiden Trump. Tercatat rekor tujuh senator dari Partai Republik  membelot dan menyatakan Trump bersalah.

Baca juga: Presiden Amerika Joe Biden Remehkan PM Israel?

"Sementara pemungutan suara akhir tidak mengarah pada keyakinan, substansi dakwaan tidak dalam perselisihan.”

“Bahkan mereka yang menentang hukuman itu, seperti Pemimpin Minoritas Senat (Mitch) McConnell, percaya Donald Trump bersalah atas kelalaian tugas yang memalukan' dan bertanggung jawab 'secara praktis dan moral untuk memprovokasi' kekerasan yang terjadi Gedung Capitol," kata Biden.

Dia mengatakan keputusan Senat ini membuatnya mengingat seorang petugas Polisi Capitol Brian Sicknick, yang terbunuh selama pengepungan Gedung Capitol pada 6 Januari lalu, yang dengan berani berjaga saat penyerangan tersebut, dan  mereka yang kehilangan nyawa.

Baca juga: 4 Poin Penting Sidang Pemakzulan Donald Trump Hari ke-3: Trump Disebut Tak Sesali Insiden Capitol

Dia memuji keberanian mereka yang melakukan upaya untuk melindungi integritas demokrasi AS, termasuk Demokrat dan Republik, pejabat dan hakim pemilu, perwakilan terpilih dan pekerja pemungutan suara.

"Bagian menyedihkan dalam sejarah kita ini telah mengingatkan kita bahwa demokrasi itu rapuh. Bahwa itu harus selalu dipertahankan. Bahwa kita harus selalu waspada. Kekerasan dan ekstremisme itu tidak memiliki tempat di Amerika. Dan kita masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai orang Amerika, dan terutama sebagai pemimpin, untuk membela kebenaran dan mengalahkan kebohongan," tegasnya.

Presiden Demokrat mengatakan tugas yang dihadapi adalah mengakhiri apa yang disebutnya "perang yang tidak beradab dan menyembuhkan jiwa bangsa." (Reuters)

--

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved