Breaking News:

Penanganan Covid

AS Siapkan Rp 2,8 Triliun Bayar Utang dan Masuk Lagi Menjadi Anggota WHO

Pernyataan tersebut disampaikannya kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) selama konferensi video.

STEPHANE DE SAKUTIN AFP/File
Antony Blinken, calon Menlu AS. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken mengatakan pada hari Rabu kemarin bahwa negara itu akan membayar hutangnya senilai lebih dari 200 juta dolar AS atau setara sekitar Rp 2,8 triliun kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada akhir bulan ini.

Ini merupakan sebuah langkah yang menegaskan kembali komitmen pemerintahan baru AS untuk mendukung program kesehatan global, termasuk penanganan pandemi virus corona (Covid-19).

"Ini adalah langkah maju yang penting dalam memenuhi kewajiban keuangan kami sebagai anggota WHO, dan mencerminkan komitmen baru kami untuk memastikan WHO memiliki dukungan yang dibutuhkannya dalam memimpin tanggapan global terhadap pandemi, bahkan saat kami berupaya untuk mereformasinya di masa depan," kata Blinken.

Baca juga: Misi WHO di Wuhan Temukan Munculnya Belasan Strain Virus pada Desember 2019, Termasuk Covid-19?

Pernyataan tersebut disampaikannya kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) selama konferensi video.

"Kami akan bekerja dengan mitra kami di seluruh dunia untuk memperluas produksi dan kapasitas distribusi (vaksin) serta untuk meningkatkan akses, termasuk (kepada) populasi yang terpinggirkan," kata Blinken, dalam pidato pertamanya sejak menjadi diplomat tertinggi negara itu.

Dikutip dari laman CNBC, Kamis (18/2/2021), Blinken juga meminta rekan-rekannya untuk memerangi informasi yang salah terkait vaksin dan membagikan informasi yang relevan tentang asal-usul Covid-19 kepada tim investigasi WHO.

Baca juga: WHO Perluas Investigasi Asal Usul Covid-19 Hingga ke Asia Tenggara

"Penyelidikan ahli dari WHO yang sedang berlangsung tentang asal mula pandemi ini dan laporan yang akan dikeluarkan, harus independen dengan temuan berdasarkan ilmu pengetahuan dan fakta serta bebas dari intervensi. Untuk lebih memahami pandemi ini dan bersiap menghadapi pandemi berikutnya, seluruh negara harus menyediakan semua data dari hari-hari awal ditemukannya wabah," tegas Blinken.

Pernyataan Blinken ini disampaikan saat Presiden AS Joe Biden berupaya mengatasi pandemi Covid-19 di AS.

Menurut data yang dikumpulkan Universitas Johns Hopkins, virus ini telah merenggut lebih dari 2,4 juta jiwa di seluruh dunia dan menginfeksi lebih dari 109,6 juta orang.

Baca juga: WHO Tetap Terbuka Menggunakan Semua Hipotesis untuk Mencari Asal Usul Covid-19

Halaman
12
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved