Breaking News:
BBC

Malaysiakini: Situs berita independen yang mengubah lanskap media Malaysia dinyatakan bersalah atas kasus penghinaan

Media Malaysia, Malaysiakini, divonis denda sekitar Rp1,7 miliar karena menerbitkan komentar pembaca yang dianggap kritis terhadap pengadilan.

Terselip di kawasan niaga yang biasa-biasa saja di distrik pinggiran ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, adalah markas besar eksperimen jurnalisme yang luar biasa. Namun, media yang berkantor di sana saat ini sedang diserang.

Pada hari Jumat (19/02) situs berita independen Malaysiakini dinyatakan bersalah atas kasus penghinaan. Media itu harus harus membayar denda yang cukup besar senilai RM500.000, atau sekitar Rp1,7 miliar.

Pemimpin redaksi dan salah satu pendirinya, Steven Gan, lolos dari hukuman penjara setelah ia dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan serupa.

Jaksa Agung mengajukan dakwaan tahun lalu berdasarkan komentar kritis pembaca tentang peradilan yang diterbitkan di situs Malaysiakini, dan kemudian menghapus unggahan tersebut, sebuah langkah dengan implikasi yang mengkhawatirkan untuk semua media berita.

Keberhasilan Malaysiakini untuk bertahan sejauh ini, menjadi lebih luar biasa di negara di mana semua media berita pernah berada di bawah kendali pemerintah, dan di wilayah di mana jurnalisme yang benar-benar independen dan berkualitas sulit ditemukan, berisiko bahaya dan sering terpinggirkan.

Malaysian news site Malaysiakini's editor-in-chief Steven Gan gestures as he arrives at the Federal Court in Putrajaya on July 13, 2020
Getty Images
Steven Gan dinyatakan tidak bersalah atas kasus penghinaan has been found not guilty of contempt

Pada 1999, Steven Gan dan Pramesh Chandran menemukan kesempatan untuk menciptakan media daring pertama di Asia.

Keduanya adalah mantan pelajar aktivis yang bekerja di surat kabar Malaysia, The Sun.

Kala itu mereka frustrasi oleh sensor negara yang mensyaratkan media harus memiliki izin untuk menerbitkan berita, dan kelompok pro-pemerintah yang menguasai kepemilikan outlet media arus utama.

"Saya percaya pada kebebasan media, namun kami melihat batasannya di Malaysia setiap hari kami bekerja sebagai jurnalis", katanya kepada BBC dalam wawancara sebelum putusan.

Pada September 1998, terjadi pemecatan dramatis dan kemudian penangkapan Wakil Perdana Menteri Anwar Ibrahim, seorang tokoh populer yang hingga saat itu dipandang sebagai pengganti Perdana Menteri Mahathir Mohamad, yang telah menjabat selama 17 tahun dan mendominasi politik Malaysia.

Halaman
1234
Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved