Breaking News:
Deutsche Welle

Protes Antikudeta Myanmar Berlanjut di Tengah Eskalasi Kekerasan Aparat

Ribuan demonstran antikudeta militer di Myanmar kembali turun ke jalan di tengah meningkatnya kekerasan oleh aparat keamanan. Militer…

Protes antikudeta dan menyerukan pembebasan pemimpin sipil yang digulingkan, Aung San Suu Kyi, terus berlangsung di Myanmar. Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian itu, ditahan oleh militer sejak kudeta 1 Februari silam.

Pada protes hari Sabtu (20/02), setidaknya dua orang tewas di Mandalaydan sedikitnya enam orang lainnya terluka saat pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah massa.

Pada Minggu (21/02), Facebook memblokir halaman yang dikelola militer karena dinilai menghasut kekerasan.

"Pagi ini, sejalan dengan kebijakan global kami, kami menghapus Halaman Tim Informasi Berita Sejati Tatmadaw dari Facebook karena melakukan pelanggaran berulang terhadap Standar Komunitas kami yang melarang hasutan untuk melakukan kekerasan dan mengkoordinasikan tindakan merugikan," tulis seorang pejabat Facebook, merujuk pada angkatan bersenjata Myanmar (Tatmadaw).

Para pengunjuk rasa menyebut kekerasan oleh aparat keamanan di Mandalay sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Sementara, pihak berwenang memperingatkan pengunjuk rasa untuk tidak melanjutkan demonstrasi yang lebih besar pada Senin (22/02), dengan mengatakan bahwa rencana protes besar itu akan menghasut anarki dan mendorong golongan muda untuk ikut turun ke jalan, ‘‘di mana mereka akan kehilangan nyawa.‘‘

Namun, peringatan itu gagal menghalangi niat para pengunjuk rasa untuk terus menuntut pemulihan demokrasi. Semakin banyakanak muda yang berpartisipasi dalam protes pro-demokrasi di Myanmar.

"Kami kaum muda punya banyak impian, tetapi kudeta militer ini telah menimbulkan begitu banyak rintangan," kata salah satu pengunjuk rasa, Ko Pay, di Yangon. "Itu sebabnya kami berada di depan dalam protes ini."

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken mengatakan AS mendukung "rakyat Burma sebagaimana mereka menuntut pemulihan pemerintahan mereka yang terpilih secara demokratis."

Blinken juga mengatakan AS akan mengambil "tindakan tegas" atas kekerasan militer Myanmar terhadap pengunjuk rasa, dalam sebuah cuitan.

Halaman
12
Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved