Sabtu, 30 Agustus 2025

Penanganan Covid

Peran India Kini Bergeser dari 'Pengekspor' Menjadi 'Importir' Vaksin Massal

India mencatat rekor 200.000 kasus infeksi setiap harinya untuk kali pertama sejak Kamis lalu.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Dewi Agustina
Nipah Dennis / AFP
Foto yang diambil pada 24 Februari 2021 ini menunjukkan logo Emirates Airlines di sebelah tag Covax pada pengiriman vaksin Covid-19 dari program vaksinasi Covid-19 global Covax, di Bandara Internasional Kotoka di Accra. Ghana menerima pengiriman pertama vaksin Covid-19 dari Covax, skema global untuk mendapatkan dan mendistribusikan inokulasi secara gratis, saat dunia berlomba untuk mengatasi pandemi. Covax, diluncurkan April lalu untuk membantu memastikan distribusi yang lebih adil dari vaksin virus korona antara negara kaya dan miskin, mengatakan akan memberikan dua miliar dosis kepada anggotanya pada akhir tahun. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, NEW DELHI - Setelah dikenal sebagai negara yang memberikan dan menjual puluhan juta dosis vaksin virus corona (Covid-19) ke banyak negara di dunia, India tiba-tiba mengalami 'kelangkaan' vaksin.

Ini terjadi saat infeksi baru Covid-19 di negara terpadat kedua di dunia itu mengalami lonjakan signifikan terkait kasus virus tersebut.

India mencatat rekor 200.000 kasus infeksi setiap harinya untuk kali pertama sejak Kamis lalu.

Ini mendorong negara tersebut mencoba melakukan vaksinasi pada lebih banyak populasinya menggunakan vaksin yang diproduksi di dalam negeri.

Dikutip dari laman Global News, Selasa (20/4/2021), selain tengah menghadapi kasus yang melonjak secara signifikan dan rumah sakit yang penuh dengan pasien Covid-19 setelah pemerintah memberlakukan pelonggaran sistem penguncian (lockdown), negara di Asia Selatan ini juga tiba-tiba mengubah aturan untuk memungkinkannya mempercepat 'impor vaksin'.

Hal ini tentunya membuat bingung para produsen vaksin, satu di antaranya produsen asal Amerika Serikat (AS), Pfizer.

Sebuah kotak karton vaksin Covishield yang dikembangkan oleh Serum Institute of India (SII) yang berbasis di Pune diturunkan di bandara Mumbai pada tanggal 24 Februari 2021, sebagai bagian dari skema Covax, yang bertujuan untuk mendapatkan dan mendistribusikan inokulasi secara adil di antara semua negara.
Sebuah kotak karton vaksin Covishield yang dikembangkan oleh Serum Institute of India (SII) yang berbasis di Pune diturunkan di bandara Mumbai pada tanggal 24 Februari 2021, sebagai bagian dari skema Covax, yang bertujuan untuk mendapatkan dan mendistribusikan inokulasi secara adil di antara semua negara. (INDRANIL MUKHERJEE / AFP)

India rencananya akan mengimpor vaksin Sputnik V dari Rusia mulai April ini untuk menargetkan vaksinasi terhadap 125 juta orang.

Mirisnya, keputusan ini tentu tidak hanya dapat menghambat perjuangan India untuk mengatasi pandemi, namun juga kampanye vaksinasi bagi lebih dari 60 negara miskin di dunia, terutama di benua Afrika, yang akan berlangsung selama bulan-bulan mendatang.

Perlu diketahui, program COVAX, yang didukung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan aliansi vaksin GAVI sengaja didirikan untuk memberikan akses yang adil bagi negara miskin dan berkembang di seluruh dunia dalam mendapatkan vaksin Covid-19.

Baca juga: Mutasi Ganda Varian Covid-19 di India Mengkhawatirkan Dunia

Program ini sangat bergantung pada pasokan vaksin dari India, yang dikenal sebagai pusat kekuatan farmasi Asia.

Namun sejauh ini pada bulan April 2021, India baru mengekspor sekitar 1,2 juta dosis vaksin.

Menurut data dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu) India, angka itu sebanding dengan 64 juta dosis yang dikirim ke luar negeri antara akhir Januari hingga Maret lalu.

Seorang pejabat setempat yang mengetahui strategi vaksin India mengatakan bahwa vaksin yang tersedia akan diutamakan penggunaannya di dalam negeri.

Karena negara itu tengah menghadapi 'situasi darurat'.

"Tidak ada komitmen dengan negara lain," kata pejabat tersebut.

Sementara itu Kemlu India yang mengawasi kesepakatan vaksin dengan negara lain, mengatakan pada 11 April lalu bahwa permintaan dan kebutuhan dalam negeri India akan menentukan jumlah vaksin yang dapat diekspor.

Kelangkaan vaksin ini telah dirasakan beberapa negara yang bergantung pada skema COVAX.

Seorang pejabat kesehatan di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang terlibat dalam peluncuran program vaksin di benua Afrika mengatakan bahwa 'Menjadi sangat bergantung pada satu produsen merupakan kekhawatiran besar'.

Sedangkan Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika, John Nkengasong menegaskan pada awal April lalu bahwa penundaan pasokan dari India ini bisa menjadi 'bencana besar' bagi dunia dalam melawan pandemi Covid-19.

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan