Breaking News:

Penanganan Covid

Menkes Jepang: Deklarasi Darurat Ketiga untuk Menahan Arus Manusia, Mutan Virus Covid-19 Berbahaya

Menteri Tamura juga melihat bahaya dari mutan baru virus corona yang mulai berbahaya menyebar dengan cepat dan luas akhir-akhir ini.

Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Menteri Kesehatan Jepang Norihisa Tamura. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Menteri kesehatan Jepang Norihisa Tamura (56) mengakui deklarasi darurat (PSBB) ke-3 Jepang kali ini terutama untuk menahan arus manusia agar tidak banyak ke luar rumah, di samping juga munculnya mutan baru virus corona yang sangat berbahaya belakangan ini.

"Pada dasarnya arus manusia perlu ditahan agar tidak ke luar, tidak berkumpul di satu tempat, di samping juga menghindari minuman beralkohol," ungkap menteri Norihisa Tamura, Minggu (25/4/2021) di FujiTV.

Di samping itu Menteri Tamura juga melihat bahaya dari mutan baru virus corona yang mulai berbahaya menyebar dengan cepat dan luas akhir-akhir ini.

"Mutan baru corona baik yang dari Inggris dan jenis mutan lain tampak menyebar dengan cepat di Jepang dan berbahaya karena memang memiliki kekuatan yang lebih besar daripada virus konvensional corona sebelumnya untuk varian-varian baru tersebut," lanjutnya.

Baca juga: Seorang Penumpang Tak Pakai Masker, Perjalanan Kereta Api Osaka Jepang Tertunda 30 Menit

Oleh karena itu cara untuk mengantisipasinya selama 17 hari mendatang dengan adanya PSBB ke-3 ini diharapkan arus manusia akan tertahan, lebih banyak di rumah dan penyebaran virus bisa tertahan pula dengan lebih baik lagi sambil melakukan vaksinasi di semua tempat di Jepang.

Menteri Tamura juga menerima kritikan langsung dari pengacara Toru hashimoto yang juga mantan Wali kota Osaka bahwa uang subsidi departemen store yang besar (lebih dari 1.000 meter persegi luasnya) sangatlah kecil.

"Keterlaluan itu masa uang subsidi hanya 200.000 yen sehari?" tanya Hashimoto.

Menjawab pertanyaan tersebut Menteri Tamura mengakui hal itu sebagai tahap awal dan saat ini memang sedang mencoba mendiskusikan kembali mengenai bagaimana cara mengantisipasi hal tersebut.

"Memang ada wawasan untuk memberikan subsidi 200.000 yen sehari tetapi ada juga yang mengusulkan 6 juta yen sehari. Ya kita lihat dulu ini baru tahap awal percobaan, nantinya mungkin akan ada perubahan lebih lanjut. Yang terpenting adalah kita harus menahan arus manusia dan jangan berkumpul ramai-ramai di suatu tempat. Cobalah menahan diri untuk ke luar," ujarnya.

Baca juga: Hasil Pemilu 3 Wilayah di Jepang Besok akan Menentukan Popularitas LDP dan Pemerintahan PM Suga

Arus ke luar masuk ke Tokyo juga sudah diimbau Gubernur Tokyo dua hari lalu, Jumat (23/4/2021) agar dihindarkan semua warga apabila tidak perlu sekali.

Di bidang vaksinasi menteri Tamura juga berusaha untuk mengantisipasi dengan secepatnya ke masyarakat sesuai janji PM Jepang bahwa diperkirakan akhir September semua warga di Jepang sudah akan selesai divaksinasi.

Namun banyak yang melihat kemungkinan menjadi Oktober selesai vaksinasi di Jepang atau bahkan lebih lambat dari itu mengingat lambatnya vaksinasi di Jepang.

Sementara itu Forum bisnis WNI di Jepang baru saja meluncurkan masih pre-open Belanja Online di TokoBBB.com yang akan digunakan sebagai tempat belanja para WNI dan orang Jepang yang ada di Jepang . Info lengkap lewat email: bbb@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved