Breaking News:

Virus Corona

Resisten Terhadap Vaksin, WHO Klasifikasikan Varian Covid-19 India Sebagai 'Kekhawatiran Global'

(WHO) telah mengklasifikasikan varian virus corona (Covid-19) yang saat ini menghancurkan India sebagai 'varian yang mengkhawatirkan' secara global.

Tangkap Layar The Sun
India digegerkan dengan penemuan puluhan mayat pasien Covid-19 yang terapung di Sungai Gangga. Dalam video yang beredar, jasad itu terlihat menumpuk di tepi Sungai Gangga, Chausa, negara bagian Bihar Utara. 

TRIBUNNEWS.COM, JENEWA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan varian virus corona (Covid-19) yang saat ini menghancurkan India sebagai 'varian yang mengkhawatirkan' secara global.

Hal itu karena varian ini dianggap lebih mudah menular dan kemungkinan lebih resisten terhadap vaksin.

Dikutip dari laman Russia Today, Selasa (11/5/2021), diidentifikasi kali pertama di India pada tahun lalu, varian yang disebut B.1.617 ini diyakini telah menjadi 'penyebab' gelombang infeksi dan kematian di negara itu dalam beberapa bulan terakhir.

Lebih dari 400.000 kasus positif tercatat selama beberapa hari pada pekan lalu di India, dengan kematian mencapai rekor 1.187 pada hari Jumat lalu.

"Kami mengklasifikasikan ini sebagai varian yang harus menjadi perhatian di tingkat global. Ada beberapa informasi yang tersedia untuk mendorong peningkatan transmisi," kata Kepala Teknis WHO untuk Covid-19, Maria Van Kerkhove, dalam sebuah pengarahan di Jenewa, Swiss, Senin kemarin.

Varian India merupakan jenis keempat dari novel coronavirus yang ditetapkan sebagai 'varian yang menjadi perhatian'.

Sebelumnya, strain mutasi Covid-19 pertama kali ditemukan di Inggris, Afrika Selatan, dan Brazil.

Van Kerkhoeve mengatakan pada pekan lalu bahwa WHO saat ini telah melacak 10 varian berbeda di seluruh dunia.

Baca juga: Hadapi 3 Varian Virus Baru, Menkes Siapkan 47 Ribu Tempat Tidur dan 22 Ribu Kamar ICU untuk Pasien

Organisasi itu akan memberikan varian klasifikasi yang paling serius jika ada bukti terjadinya peningkatan penularan, peningkatan virulensi, atau peningkatan resistensi terhadap vaksin maupun pengobatan.

Perlu diketahui, Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan telah menimbulkan kehebohan pada minggu lalu saat ia mengatakan bahwa varian B.1.617 menunjukkan mutasi 'yang dapat kebal terhadap antibodi' yang dihasilkan oleh vaksinasi atau oleh infeksi alami.

Namun kemudian Swaminathan mengatakan pada hari Senin kemarin bahwa dirinya telah 'salah kutip' dan belum ada data tentang 'dampak varian India pada diagnostik, terapeutik atau efektivitas vaksin'.

Sementara itu, Kepala Petugas Medis Inggris Chris Whitty mengatakan pada hari Senin kemarin bahwa B.1.617 tampaknya menunjukkan potensi lebih kecil untuk kebal terhadap vaksin dibandingkan strain lainnya yang sedang diselidiki.

"Kendati demikian, data lebih lanjut perlu dikumpulkan tentang masalah ini untuk memberi kami jawaban," kata Whitty.

Sebuah studi telah menemukan varian India lebih resisten terhadap antibodi, namun temuan tersebut belum ditinjau oleh tim peneliti lainnya.

Dengan laporan terkait kondisi lengkap mengenai varian yang akan dirilis oleh WHO pada hari Selasa waktu setempat, lembaga tersebut tetap menegaskan bahwa vaksin Covid-19 merupakan langkah paling efektif dalam mencegah penularan virus dan kematian pada orang yang terinfeksi varian ini.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved