Breaking News:

Olimpiade Tokyo

Ahli Virologi Top Jepang Ingatkan Hindari Ruang Tertutup Saat Olimpiade Tokyo

Ahli virologi Jepang Tohoku Hiroshi Oshitani menyarankan agar menghindari ruang tertutup, keramaian, dan kontak dekat untuk cegah penularan Covid-19

Philip FONG / AFP
Orang-orang mengambil bagian dalam protes terhadap penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020 di luar museum Olimpiade di Tokyo pada 9 Mei 2021. 

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Seorang ahli virologi Jepang dan juga penasihat pemerintah telah memperingatkan risiko penyebaran infeksi Covid-19 selama Olimpiade Tokyo.

Times of London melaporkan pada Selasa (8/6 bahwa Profesor Universitas Tohoku Hiroshi Oshitani menyarankan untuk menghindari ruang tertutup, keramaian, dan situasi kontak dekat selama Olimpiade Tokyo berlangsung, untuk mencegah penularan Covid-19.

Profesor Oshitani adalah seorang arsitek pendekatan "Tiga C" Jepang dalam menghadapi Pandemi Covid-19.

Ia mengatakan, Pemerintah dan panitia penyelenggara,  termasuk Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengatakan bahwa mereka menyelenggarakan Olimpiade yang aman.

“Tapi semua orang tahu ada risiko. Ini 100 persen tidak mungkin untuk mengadakan Olimpiade tanpa risiko penyebaran infeksi di Jepang dan juga di negara-negara lain setelah Olimpiade," kata Oshitani seperti dikutip Times.

Baca juga: Menteri Jepang Minta Masyarakat Menjaga Jarak dengan Peserta Olimpiade

"Ada beberapa negara yang tidak memiliki banyak kasus, dan ada pula yang tidak memiliki varian. Jangan jadikan Olimpiade (kesempatan) untuk menyebarkan virus ke negara-negara ini," ujarnya seraya menambahkan, sebagian besar negara kekurangan vaksin.

Olimpiade Tokyo akan dimulai 23 Juli mendatang, setelah sempat ditunda karena Pandemi tahun lalu. Olimpiade ini skalanya sudah diperkecil, dengan tanpa penonton asing.

Sejauh ini sebagian besar public Jepang khawatir Olimpiade Tokyo bakal menjadi wahana penyebaran virus Corona sehingga menguras sumber daya medis.

Namun, seorang mantan atlet Olimpiade yang menjadi pakar kesehatan masyarakat mengatakan, dia yakin Olimpiade dapat dilakukan dengan tingkat risiko yang dapat diterima.

"Akan ada kasus, tetapi memiliki satu atau beberapa kasus tidak berarti itu gagal," Tara Kirk Sell, seorang profesor di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg, mengatakan kepada Reuters, Selasa (8/6).

Baca juga: Cucu Pelari Jepang di Maraton Olimpiade Antwerpen 1920 Bawa Api Obor Olimpiade 2020

Halaman
12
Editor: hasanah samhudi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved