Virus Corona

PM Thailand Minta Maaf Warganya Terlambat dapat Vaksinasi Covid-19

Sejauh ini 4,76 juta dari lebih dari 66 juta warga Thailand telah menerima setidaknya satu dosis vaksin Covid-19.

The Bangkok Post/Prasit Tangprasert
Warga mengantre untuk menjalani tes Covid-19 di Nakhon Ratchasima di Distrik Muang, Thailand, April 2021. 

TRIBUNNEWS.COM, BANGKOK - Perdana Menteri (PM) Thailand, Prayut Chan-o-cha meminta maaf atas penundaan vaksinasi virus corona (Covid-19).

Sementara ribuan perusahaan swasta dan organisasi publik di negara itu berlomba-lomba untuk mengamankan dosis yang diimpor oleh akademi yang didukung kerajaan.

Prayut Chan-o-cha mengatakan penundaan disebabkan oleh masalah pasokan dan distribusi.

Beberapa rumah sakit di Bangkok terpaksa menunda vaksinasi yang dijadwalkan minggu ini.

"Saya meminta maaf atas masalah ini dan bertanggung jawab penuh untuk menyelesaikannya," kata Prayut kepada wartawan, seperti dilansir dari Reuters, Selasa (15/6/2021).

"Kami akan mencoba mengelola ini dengan lebih baik ke depannya," ujarnya.

Baca juga: Total Kasus Covid-19 di Thailand Lampaui 200.000 Pada Selasa Ini

Sejauh ini 4,76 juta dari lebih dari 66 juta warga Thailand telah menerima setidaknya satu dosis vaksin Covid-19.

Strategi Thailand sangat bergantung pada perusahaan lokal yang dimiliki oleh rajanya, yang membuat vaksin AstraZeneca untuk didistribusikan di Asia Tenggara, tetapi harus menunda dan menurunkan sejumlah pengiriman.

Thailand telah berebut untuk mendapatkan lebih banyak vaksin dan mendiversifikasi merek dalam beberapa bulan terakhir.

Hampir 7.000 organisasi, termasuk perusahaan swasta dan organisasi provinsi, sedang mencari "vaksin alternatif" dari akademi yang diketuai oleh adik bungsu raja, Putri Chulabhorn, kata akademi itu.

Dikatakan minggu lalu 1 juta dosis vaksin Sinopharm harus tersedia mulai 20 Juni.

Opas Karnkawinpong dari Departemen Pengendalian Penyakit mengatakan dia memperkirakan 6,5 juta dosis vaksin virus corona akan didistribusikan bulan ini secara total, di mana 3,5 juta di antaranya sudah dikirimkan. (Reuters/Channel News Asia).

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved