Breaking News:
Deutsche Welle

Warga Afganistan Berbondong Bikin Paspor untuk Menyelamatkan Diri dari Taliban

Antrean warga Afganistan yang ajukan permohonan paspor dimulai sebelum matahari terbit. Mereka khawatir akan kehidupan di bawah bayangan…

Para pelamar ini kemudian harus difoto, mata mereka direkam secara biometrik, dan sidik jari diambil sebagai bagian dari proses itu.

Sementara Zeenat Bahar Nazari telah menunggu selama berjam-jam ketika kantor berita AFP mewawancarainya. "Saat kami masih anak-anak, keluarga kami mengatakan bahwa Taliban ... membunuh orang, membuat mereka menghilang," kata mahasiswi berusia 23 yang sedang mempelajari ilmu komputer itu. "Mereka melakukan kekerasan terhadap perempuan, tidak membolehkan mereka mendapat pendidikan dan merampas hak-hak dasar mereka."

Hidup di tengah serangan militer

Sementara itu pihak militer Amerika Serikat (AS) telah meluncurkan puluhan serangan udara dalam seminggu terakhir untuk mendukung pasukan pemerintah Afganistan melawan Taliban.

Pada hari Selasa (28/07) Pentagon mengatakan bahwa pesawat tempur konvensional dan drone bersenjata digunakan dalam serangan itu, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut. Seorang pejabat AS, mengatakan bahwa sejak 20 Juli telah terjadi peningkatan yang signifikan dalam jumlah serangan.

Serangan ini menunjukkan peningkatan dukungan AS setelah berminggu-minggu Taliban menang melawan pasukan pemerintah. Para pejabat AS mengatakan bahwa pesawat telah diterbangkan dari pangkalan di luar Afganistan karena militer AS menarik pesawat tempurnya keluar dari negara itu.

Menurut para pejabat, serangan udara sebagian besar telah memberikan dukungan langsung kepada pasukan Afganistan yang tengah kewalahan karena diserang oleh Taliban. Beberapa serangan juga menyasar peralatan militer yang direbut Taliban.

Belum tahu mau pergi ke mana

Perempuan bernama Nazari yang juga ikut mengantre pembuatan paspor memang terlalu muda untuk mengingat rezim pertama Taliban, dari tahun 1996 hingga 2001. Tapi dia bisa jelas mengingat apa yang telah mereka lakukan setelahnya.

"Satu-satunya hal yang saya tahu adalah Taliban memiliki wajah teror -- pertempuran, bom bunuh diri, dan pertumpahan darah," ujar Nazari. "Ketika Anda pergi ke sekolah atau universitas, Anda mengharapkan masa depan yang cerah, tetapi jika Taliban mengambil alih kekuasaan, harapan untuk masa depan yang cerah itu akan hilang."

Banyak dari mereka yang mengantre pembuatan paspor masih tidak tahu ke mana mereka akan pergi jika diberi kesempatan. Mereka juga tidak tahu apakah akan ada negara yang bersedia menampung.

Sebagian besar negara mengharuskan warga Afganistan untuk melewati berbagai persyaratan untuk mendapatkan visa. Ada banyak dokumen yang diperlukan bersama bukti stabilitas keuangan yang tidak banyak dimiliki oleh orang-orang di sana. Namun, semua orang ingin bersiap-siap.

Halaman
123
Sumber: Deutsche Welle
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved