Breaking News:

Virus Corona

Studi Pertama Kombinasi Vaksin AstraZeneca dan Sputnik V Tidak Tunjukkan Efek Samping Serius

Pernyataan tersebut disampaikan Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF) pada hari Jumat waktu setempat.

Juan MABROMATA / AFP
Seorang petugas kesehatan menunjukkan botol vaksin Sputnik V di pusat vaksinasi untuk petugas kesehatan medis, di lapangan basket klub Argentina River Plate, di bawah tribun stadion Monumental, di Buenos Aires pada 2 Februari, 2020. 

TRIBUNNEWS.COM, MOSKWA - Studi pertama di dunia terkait kombinasi antara vaksin virus corona (Covid-19) AstraZeneca dan komponen pertama vaksin Sputnik-V Rusia, yang dilakukan di Azerbaijan, menunjukkan tidak adanya efek samping yang serius atau infeksi Covid-19 setelah vaksinasi.

Pernyataan tersebut disampaikan Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF) pada hari Jumat waktu setempat.

"Studi tentang keamanan dan imunogenisitas kombinasi vaksin AstraZeneca dan komponen pertama vaksin Sputnik V di Azerbaijan dimulai pada Februari 2021," kata RDIF dalama pernyataan resminya.

Hingga saat ini, 50 relawan telah divaksinasi dan peserta baru pun diundang untuk mengikuti uji coba.

"Analisis sementara terhadap data menunjukkan profil keamanan yang tinggi untuk penggunaan gabungan vaksin 'tanpa efek samping serius atau kasus virus corona setelah vaksinasi'," jelas RDIF.

Baca juga: Menlu Retno dan Menlu Rusia Bahas Kerja Sama Produksi Vaksin Sputnik V

Dikutip dari laman Sputnik News, Jumat (30/7/2021), data awal tentang imunogenisitas dari penggunaan gabungan vaksin di Azerbaijan ini akan diterbitkan pada Agustus mendatang.

"Kami berharap ini akan sukses di Azerbaijan dan negara-negara lain, karena akan memungkinkan pelaksanaan program vaksinasi yang lebih efektif dan melindungi lebih banyak orang di seluruh dunia," papar RDIF.

CEO RDIF, Kirill Dmitriev mengatakan bahwa penelitian untuk mengetahui efektivitas vaksin AstraZeneca dan Sputnik V sangat diperlukan untuk mengetahui seberapa besar efektivitas dari kombinasi vaksin Covid-19 itu.

"Kami menganggap penting untuk melakukan penelitian bersama terkait penggabungan komponen pertama Sputnik V dengan vaksin dari produsen lain untuk perjuangan yang lebih efektif dalam melawan varian baru Covid-19 yang muncul," tegas Dmitriev.

Di sisi lain, General Manager AstraZeneca di Rusia dan Eurasia, Irina Panarina mengatakan bahwa peningkatan utama heterogen yang melibatkan pemberian komponen vaksin yang berbeda kepada pasien adalah salah satu 'rejimen vaksinasi yang paling menjanjikan' untuk dipelajari.

"Ini menjadi sangat relevan sekarang, saat banyak negara menghadapi masalah terkait pencegahan penyebaran varian baru dan kebutuhan akan vaksinasi tambahan (booster) penduduk juga semakin meningkat. Itulah mengapa hasil penelitian dapat menjadi sangat penting bagi negara-negara yang menggunakan vaksin AstraZeneca dan Sputnik V," kata Panarina.

Perlu diketahui Sputnik Light adalah versi komponen pertama dari vaksin Covid-19 Rusia 'Sputnik-V' yang dikembangkan oleh RDIF dan Institut Gamaleya.

Menurut RDIF, Sputnik Light telah menunjukkan efektivitas mencapai 79,4 persen dalam melawan Covid-19, lebih tinggi dibandingkan beberapa vaksin dua dosis lainnya.

Sementara AstraZeneca adalah vaksin yang dikembangkan oleh Universitas Oxford dan AstraZeneca.

Menurut data yang diterbitkan di Lancet, pada dosis pertama, vaksin ini memiliki efektivitas 76,0 persen melawan virus corona, lalu sebesar 81,3 persen setelah pemberian dosis kedua.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved