Breaking News:

Virus Corona

Selandia Baru Laporkan Kematian Pertama Terkait Vaksin Pfizer

Selandia Baru melaporkan apa yang disebut pihak berwenang sebagai kematian pertama yang terkait dengan vaksin virus corona (Covid-19) Pfizer.

AFP/JUSTIN TALLIS
Ilustrasi botol dengan stiker Vaksin Covid-19 terpasang dan jarum suntik dengan logo perusahaan farmasi AS Pfizer, (17 November 2020). Pfizer secara tajam meningkatkan proyeksi pendapatan 2021 terkait dengan vaksin Covid-19 pada 28 Juli 2021, memperkirakan pengiriman 500 juta dosis lebih banyak dibandingkan dengan harapan sebelumnya. Pembuat obat AS, yang telah bermitra dengan BioNTech Jerman pada vaksin, memperkirakan pengiriman 2,1 miliar dosis, menghasilkan penjualan $33,5 miliar. Perkiraan Mei perusahaan adalah untuk $26 miliar dalam penjualan. Pfizer juga mengangkat prospek laba setahun penuh. (JUSTIN TALLIS / AFP) 

TRIBUNNEWS.COM, WELLINGTON - Selandia Baru pada hari Senin waktu setempat melaporkan apa yang disebut pihak berwenang sebagai kematian pertama yang terkait dengan vaksin virus corona (Covid-19) Pfizer.

Informasi tersebut dirilis oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) negara itu setelah peninjauan dilakukan oleh Dewan Pemantau Keamanan Vaksin Covid-19 Independen tentang kematian seorang perempuan setelah menerima vaksin.

Namun pernyataan dari kementerian itu tidak memberikan rincian terkait berapa usia perempuan tersebut.

"Dewan Pemantau menganggap bahwa kematian perempuan itu karena miokarditis, yang dikenal sebagai efek samping langka dari vaksin Pfizer," kata pernyataan itu.

Baca juga: Selandia Baru Longgarkan Lockdown, Auckland Masih Ditutup

Perlu diketahui, miokarditis merupakan peradangan pada otot jantung yang dapat membatasi kemampuan organ untuk memompa darah dan dapat menyebabkan perubahan ritme detak jantung.

"Ini adalah kasus pertama di Selandia Baru, di mana kematian pada hari-hari setelah vaksinasi dikaitkan dengan vaksin Pfizer," jelas Kementerian Kesehatan Selandia Baru.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Senin (30/8/2021), tim media Pfizer di Selandia Baru pun belum memberikan tanggapan terkait temuan ini.

"Kasus tersebut kini telah dirujuk ke koroner, tapi penyebab kematiannya belum ditentukan," kata Kementerian Kesehatan Selandia Baru.

Baca juga: Kasus COVID-19 di Selandia Baru Ungkap Tingkat Vaksinasi Rendah

Sementara Dewan Pemantau tetap menganggap bahwa efek munculnya miokarditis kemungkinan karena vaksinasi.

Dewan juga mencatat bahwa ada masalah medis lain yang terjadi pada saat yang sama dan mungkin mempengaruhi hasil setelah perempuan itu menjalani vaksinasi.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved