Breaking News:

Virus Corona

Penelitian Profesor Jepang: Strain Mu Tekan Efektivitas Vaksinasi Hingga Kurang dari Satu per Tujuh

Tidak hanya strain Mu yang menekan efek vaksin hingga kurang dari satu per tujuh, tetapi juga strain delta yang sangat menular.

Foto Town News
Profesor Masahiro Kami (52). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Tim peneliti Universitas Tokyo dan Universitas Tokai telah mengumumkan bahwa strain Mu, yang merupakan salah satu strain mutan, menekan efek vaksin hingga kurang dari satu per tujuh, dan telah menjadi keprihatinan di Jepang.

Profesor Masahiro Kami, profesor Universitas Tokyo dari Medical Governance Research Institute mengatakan bahwa dia tidak bisa mengatakan apa pun dari hasil penelitian yang bukan data klinis.

"Bahkan jika strain Mu memiliki tingkat kematian yang tinggi dan infektivitas yang kuat, tidak mungkin bahwa ia telah membuat mutasi yang signifikan dengan begitu mudah. Dan jika divaksinasi, ia dapat mencegah kematian bahkan jika ditembus seperti strain Delta. Vaksinasi itu penting. Kolombia, di mana strain Mu adalah endemik, diperkirakan telah menyebabkan wabah besar karena tingkat penyelesaian vaksinasi yang rendah sekitar 30%," jelas Profesor Masahiro Kami.

Vaksinasi penting untuk pertama dan kedua, tetapi di negara maju di mana tingkat vaksinasi sudah tinggi, vaksinasi booster ketiga akan segera dilaksanakan.

Di Israel, yang memulai vaksinasi booster pada 1 Agustus, sehingga titer antibodi telah melonjak sekitar 5 hingga 10 kali lipat.

Namun, pada tanggal 8 September, Sekretaris Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus "menunggu" vaksinasi booster karena menipisnya vaksin di dunia.

Tedros telah menetapkan tujuan menyelesaikan 40 persen dari populasi dunia pada akhir tahun, mengatakan bahwa ia harus "mentransfer" vaksin ketiga di negara maju ke negara berkembang.

Berbagai varian virus corona dari kiri atas ke kanan: Alpha, Beta, Gamma, Delta. Bawah dari kiri ke kanan: Eta, Iota, Kappa, Lambda dan Mu.
Berbagai varian virus corona dari kiri atas ke kanan: Alpha, Beta, Gamma, Delta. Bawah dari kiri ke kanan: Eta, Iota, Kappa, Lambda dan Mu. (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

"Ini adalah pernyataan yang menyesatkan. Tedros adalah orang yang mengambil posisi sekretaris jenderal dengan suara negara berkembang. Penting untuk berbicara untuk negara berkembang, tetapi Pfizer dan Moderna sekarang digunakan di negara maju," kata Profesor Masahiro Kami.

"Aneh menghentikan vaksinasi booster untuk mendistribusikan vaksin mRNA ini ke negara berkembang dengan fasilitas penyimpanan yang langka. Sebaliknya, ada data klinis bahwa titer antibodi melonjak khususnya dari vaksinasi booster di negara maju," ujar dia.

Halaman
12
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved