Breaking News:

Konflik di Afghanistan

Kisah Pilu Penduduk Lembah Bamiyan di Afghanistan, Warga: Kami Tidak Bisa Makan Malam Ini

Sejak Taliban kembali berkuasa penduduk di lembah Bamiyan, Afghanistan dilanda kelaparan dan kemiskinan.

AFP
Seorang wanita Hazara berdiri bersama anak-anak di sebuah tebing di Bamiyan, 3 Oktober 2021. 

“Kami hidup dalam kesengsaraan dan kemalangan,” ungkapnya.

Anak-anak etnis Hazara berdiri di gua yang menjadi tempat tinggal mereka.
Anak-anak etnis Hazara berdiri di gua yang menjadi tempat tinggal mereka di Bamiyan, 3 Oktober 2021. (Bulent KILIC / AFP)

Buruh harian dan kuli angkut tidak bisa lagi membawa pulang sedikit uang seperti dulu.

Hanya panen kentang yang terus berlanjut.

Kentang adalah satu-satunya tanaman yang dapat tumbuh di daerah di ketinggian 2.500 meter itu.

“Saya pergi ke pasar Bamiyan setiap pagi, tetapi saya kembali tanpa membawa apa-apa,” kata Mahram, seorang tukang batu berusia 42 tahun.

“Ketika ada pekerjaan, saya bisa mendapatkan upah 300 afghani ($ 3,75) per hari,” tambahnya.

Sekarang keluarga bertahan hidup dengan cara mengirim anak-anak mereka untuk membantu memanen kentang.

“Para petani memberi mereka sedikit gaji,” kata Mahram.

"Hanya itu yang kita dapat, dan juga sedikit roti."

“Tapi dalam 10 hari, panen akan berakhir, dan kami akan kelaparan. Orang-orang bisa mati.”

Halaman
123
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved