Breaking News:
Deutsche Welle

Apakah Negara-negara Asia Tenggara Memenuhi Komitmen Iklimnya?

Asia Tenggara sadar betul tingkat risiko yang dihadapi, sebagai salah satu kawasan yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.…

Bicara pemanasan global, Asia Tenggara adalah salah satu kawasan di dunia yang paling rentan terkena dampaknya. Seperti diperingatkan dalam laporan terbaru Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), kawasan ini sedang menghadapi kenaikan permukaan laut, gelombang panas, kekeringan, dan badai hujan yang semakin intens.

"Studi terbaru memperkirakan, hingga 96% kawasan ASEAN kemungkinan akan terkena dampak kekeringan dan hingga 64% terkena dampak kekeringan ekstrem,” kata Benjamin P. Horton, direktur Earth Observatory of Singapore di Nanyang Technological University, kepada DW.

"Kenaikan permukaan laut di masa depan akan memengaruhi populasi, ekonomi, dan infrastruktur setiap negara pesisir,” tambahnya.

Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) dan pusat iklimnya pada September melaporkan, hampir 5 juta orang terkena dampak Topan Vamco yang melanda Filipina dan Vietnam pada November 2020. Sementara, 289 orang tewas dalam banjir yang disebabkan oleh badai tropis Linfa di Kamboja, Laos, Thailand, dan Vietnam sebulan sebelumnya.

Sebuah survei iklim yang dilakukan oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute juga mengungkap, orang Asia Tenggara memandang hujan lebat dan banjir yang semakin intens sebagai dampak paling serius dari pemanasan global.

Kurangnya aksi konkret

Sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara telah berjanji mempercepat pengurangan emisi gas rumah kaca sebagai bagian dari kesepakatan iklim Paris tahun 2015, yang tujuan utamanya adalah membatasi pemanasan hingga di bawah 2 derajat Celcius dibandingkan tingkat pra-industri.

Mereka juga telah mengesahkan undang-undang dan mengimplementasikan kebijakan untuk mengatasi perubahan iklim. "Tapi masih banyak yang bisa dilakukan", kata Melinda Martinus, peneliti utama di ISEAS-Yusof Ishak Institute.

"Saya percaya akan ada lebih banyak perkembangan yang muncul dari kawasan ini karena bisnis dan pemerintah menghadapi tekanan untuk mengambil lebih banyak tindakan guna mengatasi perubahan iklim. Mudah-mudahan, [tindakan] itu akan jauh lebih ambisius,” kata Martinus kepada DW.

Menurut Martinus, perubahan iklim telah berulang kali diidentifikasi di pertemuan-pertemuan ASEAN sebagai salah satu tantangan paling krusial di kawasan, tapi aksi nyata yang diambil untuk mengatasinya masih kurang.

Halaman
12
Sumber: Deutsche Welle
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved