Breaking News:

Krisis Myanmar

Sekolah Dibuka Kembali, Siswa Myanmar Boikot Kelas: Takut Jadi Sasaran Serangan

Militer mengumumkan pembukaan kembali sekolah pada 1 November, setelah penutupan nasional pada Juli karena COVID-19, banyak siswa menolak untuk hadir.

STR / AFP
Para pengunjuk rasa ikut serta dalam demonstrasi obor menentang kudeta militer di Yangon pada 18 November 2021. 

TRIBUNNEWS.COM - Sekolah di seluruh Myanmar kini telah dibuka kembali.

Namun, ruang kelas hampir sepenuhnya kosong, sebab siswa dan guru menolak untuk hadir.

Melansir Al Jazeera, Chika Ko, seorang siswa sekolah menengah berusia 16 tahun dari Pyay, meminta nama aslinya disamarkan karena takut akan pembalasan mengatakan teman-temannya juga tidak pergi sekolah.

"Saya tidak pergi ke sekolah karena baru-baru ini terjadi ledakan di sekolah."

Baca juga: Siswa dan Guru Myanmar Boikot Sekolah: Takut Diserang Militer dan Tuntut Reformasi Sistem Pendidikan

Baca juga: Wartawan AS dibebaskan junta Myanmar setelah sempat divonis 11 tahun penjara oleh pengadilan militer

Pengunjuk Rasa di Myanmar 18 November
Para pengunjuk rasa ikut serta dalam demonstrasi obor menentang kudeta militer di Yangon pada 18 November 2021.

"Sekolah saya belum diserang tetapi ketika saya mendengar ledakan di sekolah lain, itu membuat saya sangat takut dan saya tinggal di rumah," jelasnya.

Chika Ko mengatakan, sekolahnya biasa memiliki 600 siswa, tetapi hanya sekitar 20 siswa yang muncul dalam beberapa minggu terakhir.

Militer mengumumkan pembukaan kembali sekolah pada 1 November, setelah penutupan nasional pada Juli karena COVID-19.

Namun, banyak siswa seperti Chika Ko menolak untuk hadir, selain bentuk protes pada jenderal yang merebut kekuasaan pemerintah, juga karena takut mereka bisa menjadi sasaran serangan.

Nay Zin Oo orang tua berusia 48 tahun dari Yangon yang memiliki satu anak di sekolah dasar dan dua di sekolah menengah menolak untuk membiarkan satu dari mereka menghadiri kelas.

“Sekolah-sekolah tersebut dioperasikan oleh militer dan sebagai seorang revolusioner, saya menolak untuk mengirim anak-anak saya,” kata Nay Zin Oo yang meminta agar nama aslinya tidak digunakan karena takut akan pembalasan.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved