Breaking News:

Apa yang Akan Diberikan China kepada Dunia Sebagai Negara Sosialis Modern?

Para pemimpin China turut mengundang negara-negara di seluruh dunia agar turut serta dalam laju cepat pembangunan China.

Xinhua/Wu Huiwo
Pemandangan alun-alun selatan National Exhibition and Convention Center (Shanghai), venue utama Pameran Impor Internasional China (China International Import Expo/CIIE) keempat di Shanghai, China timur. 

TRIBUNNEWS.COM - Di bawah kepemimpinan Partai Komunis China (Communist Party of China/CPC) yang telah berusia 100 tahun, China berupaya menjadi "negara sosialis modern besar" pada pertengahan abad ke-21.

Upaya modernisasi dari perekonomian terbesar kedua di dunia sekaligus negara dengan perdagangan barang tertinggi di dunia itu diperkirakan akan membawa manfaat besar bagi dunia yang tengah dilanda pandemi Covid-19, lonjakan proteksionisme, dan peningkatan ancaman dari perubahan iklim.

Seperti disampaikan oleh Xi Jinping, Sekretaris Jenderal Komite Sentral CPC, "pembangunan China adalah peluang bagi dunia."

Upacara peringatan seratus tahun Partai Komunis China (Communist Party of China/CPC) digelar di Lapangan Tian'anmen di Beijing, ibu kota China, pada 1 Juli 2021.
Upacara peringatan seratus tahun Partai Komunis China (Communist Party of China/CPC) digelar di Lapangan Tian'anmen di Beijing, ibu kota China, pada 1 Juli 2021. (Xinhua/Li Ga)

OPSI BARU

Bertransformasi dan melampaui batasan, China modern hadir dengan pendekatan, jalur, dan model yang sama sekali baru, memberikan berbagai kemungkinan-kemungkinan baru bagi dunia yang terus berubah.

Kebangkitan China yang damai, dalam skala maupun kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, pada kenyataannya menunjukkan bahwa tidak pernah ada satu model pembangunan yang berlaku untuk semua, dan gaya yang diadopsi di negara Barat bukanlah satu-satunya jalan menuju modernitas.

Meskipun teori modernisasi berasal dari Barat, bukan berarti modernisasi sama dengan westernisasi. Beijing bertekad untuk tidak mengikuti jalur agresi, kolonisasi, dan ekspansi Barat, tidak merampas dan menjajah negara-negara asing ataupun mengalihkan konflik dan krisis domestik ke luar negeri dalam upaya modernisasinya.

Kendati demikian, China tidak berniat menjual jalur pembangunan miliknya kepada dunia. Model modernisasi China menawarkan opsi baru bagi negara dan bangsa-bangsa lain yang ingin mempercepat pembangunan seraya mempertahankan kemerdekaan mereka.

Komunike sidang pleno keenam Komite Sentral CPC ke-19 mengatakan bahwa partai berkuasa terbesar di dunia itu telah "memimpin rakyat dalam merintis jalur unik China menuju modernisasi, menciptakan model baru bagi kemajuan manusia, serta memperluas akses bagi negara-negara berkembang untuk mencapai modernisasi.”

PELUANG YANG SANGAT BESAR

Ketika populasi sebesar 1,4 miliar melewati ambang modernitas, peluang global yang sangat besar akan terbuka. Hal ini terutama benar ketika China diperkirakan akan terus berkontribusi, menurut para pakar, antara 25 persen hingga 30 persen dari pertumbuhan ekonomi global dalam lima hingga 10 tahun ke depan.

Para pemimpin China telah menegaskan kembali kesediaan bangsanya untuk mengundang negara-negara di seluruh dunia agar "turut serta dalam laju cepat pembangunan China."

Pameran Impor Internasional China (China International Import Expo/CIIE) keempat yang belum lama ini digelar, yang diikuti oleh hampir 3.000 bisnis dari 127 negara dan kawasan, menunjukkan kesediaan China untuk lebih membuka pasarnya yang luas. Kesepakatan tentatif senilai lebih dari 70 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp14.259) telah dicapai untuk pembelian barang dan jasa selama satu tahun di "platform kelas dunia" itu.

China telah menegaskan kembali bahwa mereka tidak akan mengubah tekadnya untuk membuka diri pada level yang lebih tinggi. Berkomitmen untuk mengurangi daftar negatif untuk investasi asing dan melindungi hak kekayaan intelektual, China bertujuan mengejar babak baru keterbukaan yang mengutamakan keterbukaan institusional dan sistemik, sehingga menciptakan sistem pasar yang selaras dengan peraturan, regulasi, manajemen, dan standar internasional.

Dua puluh tahun setelah bergabungnya China dengan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO), level tarif keseluruhan China telah turun ke angka 7,4 persen dari 15,3 persen pada 2001, lebih rendah dari 9,8 persen yang dijanjikan China saat bergabung dengan badan perdagangan dunia itu.

Berbagai perusahaan multinasional juga memperluas jejak mereka dalam ekonomi digital China yang berkembang pesat, yang skala pasarnya naik 9,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 5,4 triliun dolar AS pada 2020, menempati peringkat kedua di dunia, menurut laporan dari Akademi Teknologi Informasi dan Komunikasi China.

Di dunia yang kian dinamis, reformasi, tugas yang lazim dihadapi hampir setiap negara, menjadi salah satu alasan terpenting di balik transformasi China. Akademisi dan komentator politik asal Inggris Martin Jacques menggambarkannya sebagai "transformasi ekonomi paling luar biasa dalam sejarah modern."

CPC telah menunjukkan kemampuan luar biasa untuk melakukan reformasi, dan menjanjikan upaya tanpa henti dalam melakukan reformasi.

Dalam cetak biru pembangunan utamanya untuk lima hingga 15 tahun ke depan, yang bertujuan untuk memandu langkah negara menuju modernisasi, China menjanjikan serangkaian langkah reformasi. Langkah-langkah tersebut meliputi sistem pasar berstandar tinggi, dinamika pasar yang lebih besar, serta peningkatan kapasitas tata kelola ekonomi pemerintah.

Seperti dituturkan oleh ekonom Amerika Serikat (AS) David Blair, China yang makmur akan bagus bagi seluruh dunia "karena menyediakan pasar, inovasi, dan persaingan." Reformasi mendalam China dan upayanya yang tak tergoyahkan dalam mengejar pembangunan berkualitas tinggi akan menguntungkan dunia dengan memberikan peluang investasi baru di pasar yang luas yang semakin terbuka.

Di balik kebijakan dalam negeri dan upaya modernisasi China, seperti vitalisasi pedesaan dan paradigma pembangunan baru yaitu "sirkulasi ganda", terdapat peluang investasi yang sangat besar.

Kelompok berpenghasilan menengah di China mencapai lebih dari 400 juta orang, yang terbesar di dunia. Konsumen China juga diperkirakan akan membentuk kembali lanskap ekonomi global.

Bukti terbaru dari pasar konsumen China yang kuat tercermin dalam permintaan atas barang-barang impor yang tetap solid selama  festival belanja “Double Eleven” tahun ini, meskipun terdapat gangguan rantai pasokan yang disebabkan oleh COVID-19.

Mantan kepala ekonom Goldman Sachs dari Inggris, Jim O'Neill, mengatakan kepada Xinhua bahwa konsumen China masih menjadi isu pembangunan ekonomi paling penting bagi China, dan ekonomi dunia, untuk sepuluh tahun ke depan.

AGENDA HIJAU

Ketika China berupaya untuk menjadi lebih ramah lingkungan, tidak ada bisnis asing yang cerdas yang ingin melewatkan peluang investasi selama beberapa dekade dan pasar yang lebih luas di balik tekad pengurangan karbon China.

Sejak kepemimpinan China pada tahun lalu mengumumkan target untuk mencapai netralitas karbon sebelum 2060, China telah membuktikan ucapannya. Contoh terbaru dari upaya hijau negara itu terlihat pada Konferensi Para Pihak ke-26 (COP26) untuk Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Perubahan Iklim, ketika Beijing mengumumkan akan mengembangkan sistem ekonomi yang ramah lingkungan, rendah karbon, dan sirkular dengan lebih cepat, terus mendorong penyesuaian struktur industri, serta membatasi pembangunan proyek padat energi dan emisi tinggi yang tidak rasional.

Setelah negara berkembang terbesar di dunia itu menyelesaikan pengurangan intensitas emisi karbon paling signifikan hanya dalam waktu 30 tahun, hal ini tak hanya akan bermanfaat bagi transisi besar-besaran ekonomi China menuju ekonomi rendah karbon, tetapi juga memiliki arti yang sangat penting bagi seluruh dunia.

Harian South China Morning Post mengatakan dalam sebuah artikel opini baru-baru ini bahwa serangkaian langkah praktis dari China dapat terbukti menjadi pola yang menarik bagi negara-negara berkembang lainnya.

Tim sukarelawan berpatroli di sebuah kawasan hutan di Provinsi Zhejiang
Tim sukarelawan berpatroli di sebuah kawasan hutan di Provinsi Zhejiang, China timur, pada 20 Juli 2021. Hutan yang memiliki area seluas sekitar 22 hektare itu diluncurkan pada 2017 dengan tujuan membantu mengurangi emisi karbon dioksida dan mencapai netralitas karbon. (Xinhua/Xu Yu)

PENDEKATAN BARU

Lima puluh tahun setelah pemulihan kursi sahnya di PBB, Republik Rakyat China semakin dekat dengan panggung utama dunia. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut China sebagai "pendukung kuat multilateralisme."

Negara dengan populasi terbanyak di dunia itu telah menunjukkan pemahaman mendalamnya tentang dunia yang terus berubah dengan mengusulkan pendekatan baru dalam hubungan internasional, yang didasarkan pada kerja sama yang saling menguntungkan dan prinsip mencapai pertumbuhan bersama melalui diskusi dan kolaborasi dalam tata kelola global.

China tidak bermaksud menumbangkan tatanan internasional saat ini dan menggantinya dengan tatanan yang dikuasainya. China berkomitmen untuk menjadi pembangun perdamaian dunia, kontributor pembangunan global, dan pembela tatanan internasional.

Tatanan internasional dan sistem pemerintahan yang diyakini China paling sesuai dengan dunia, dan paling sesuai dengan rakyat dari semua negara, adalah sesuatu yang "harus diputuskan oleh semua negara melalui konsultasi, dan bukan oleh satu negara atau beberapa negara," tutup Xi.

Admin: Sponsored Content
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved