Tak Dapat Dimaafkan Kebrutalan dan Kebencian di Internet oleh Warga Okinawa Jepang

Kebrutalan oleh sekitar 300 warga Okinawa melempari merusak gedung kepolisian Okinawa serta mobil yang ada di sana, serta kebencian di internet tak

Ist
Gubernur Okinawa Tamaki Denny (62) 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Kebrutalan oleh sekitar 300 warga Okinawa melempari merusak gedung kepolisian Okinawa serta mobil yang ada di sana, serta kebencian di internet tak dapat dimaafkan oleh Gubernur Okinawa Denny Tamaki.

 "Seorang anak SMA yang melakukan kontak dengan seorang petugas polisi telah kehilangan penglihatannya dan pidato kebencian ke Okinawa dikonfirmasi di Internet setelah insiden pelemparan batu di stasiun Okinawa. Kebencian juga ditujukan pada pesta-pesta dan sangat tidak dapat termaafkan," tekan  Gubernur Okinawa Denny Tamaki  Jumat ini (4/2/2022).

 Dalam peraturan penanggulangan kebencian yang diberlakukan oleh prefektur tersebut, ia juga mengungkapkan gagasan untuk mempertimbangkan apakah mungkin untuk menekan kebencian terhadap Okinawa di Internet dengan aturan baru yang lebih ketat dan lebih tegas lagi.

Gubernur menunjukkan bahwa Benci dan Kebencian Okinawa ke mana pun Anda pergi benar-benar tidak dapat diterima.

"Jika Anda membuat kesalahan, Anda bisa membunuh orang," tekannya lagi.

 Selain itu, ia mengklarifikasi gagasan bahwa sambil memikirkan peraturan tersebut, dirinya ingin memperingatkan situasi sosial (ada kebencian di internet) dan dengan tegas mempelajari apakah benar-benar mungkin untuk menghentikannya. 

Selain itu, dia berkata kepada warga prefektur, "Saya ingin Anda menentukan dengan hati-hati apakah sumber informasi itu dapat dipercaya dan bertindak sesuai dengan itu, Cobalah  isi informasi tersebut diteliti lebih lanjut sebelum bereaksi."

Diminta kepada polisi prefektur, "Saya ingin Anda melanjutkan penyelidikan yang adil, mengklarifikasi seluruh gambaran sesegera mungkin, dan mengirimkan informasi kepada warga prefektur."

Dia menunjukkan bahwa tindakan melempar batu "tidak diperbolehkan".

Kejadiannya ketika 27 Januari siang seorang pemuda 17 tahun naik motor mengaku kepala khususnya bagian mata dipukul dengan tongkat oleh polisi yang berusaha menghentikannya. Akibatnya mata kanan pemuda itu bengkak dan kemungkinan besar menjadi buta.

Malam harinya jam 23:00 sekitar 300 orang secara bruutal berkumpul di depan kantor polisi Okinawa dan melempari batu hingga pecah kacanya, serta merusak pula mobil yang ada di sana.

Kumpulan warga itu baru bubar sekitar jam 4 pagi dini hari. Polisi hanya berjaga di depan pintu masuk gedung dengan tameng anti huru-hara tanpa melawan kebrutalan tersebut.

Berbagai peristiwa kejahatan di Jepang didiskusikan pula oleh pecinta Jepang. Dapat bergabung ke dalam grup tersebut dengan mengirimkan email ke: info@tribun.in

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved