Breaking News:

Konflk Rusia Vs Ukraina

Telepon Presiden Prancis, Putin Tegaskan Militer Rusia Tetap Lanjutkan Operasi Militer di Ukraina

"Percakapan ini, sayangnya, hanya mendengar Presiden Putin akan terus melanjutkan intervensi militer sampai selesai," menurut sumber Elysée.

Editor: Hasanudin Aco
SPUTNIK / AFP
Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan) bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) di Moskow pada 7 Februari 2022, untuk pembicaraan dalam upaya menemukan titik temu di Ukraina dan NATO. 

TRIBUNNEWS.COM, PARIS - Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan tetap akan melanjutkan operasi militer di Ukraina.

Hal itu diungkapkan Putin dalam pembicaraan melalui telepon selama 90 menit dengan Presiden  Prancis, Emmanuel Macron.

"Pembicaraan itu diprakarsai oleh Putin," kata sumber Istana Elysée kepada wartawan pada briefing pada seperti dilansir CNN, Kamis (3/3/2022).

Pernyataan Kremlin yang dilaporkan kantor berita negara Rusia RIA-Novosti, Kamis (3/3/2022) menyatakan, Presiden Rusia Vladimir Putin dalam panggilan telepon dengan Macron juga menekankan upaya Ukraina membuat perundingan bertele-tele hanya akan memunculkan tuntutan baru dari Moskow.

Baca juga: Dubes Rusia: Pemerintah Kriminal Ukraina Ingin Hapus Bahasa Rusia dari Percakapan Sehari-hari

Istana Elysee juga menyebut, pembicaraan kedua pemimpin termasuk sulit.

Putin menuduh Ukraina melakukan "sabotase (selama) tujuh tahun" perjanjian Minsk.

Ini adalah sebuah perjanjian, sebuah proses perdamaian yang disudahi Rusia dengan mengakui kemerdekaan dua republik separatis di timur Ukraina, Donetsk dan Lugansk.

"Putin menguraikan secara rinci pendekatan dan kondisi mendasar negosiasi dengan Kiev. Putin menegaskan, yang utama adalah demiliterisasi dan status netral Ukraina, sehingga ancaman terhadap Federasi Rusia tidak akan pernah muncul dari wilayah itu (Ukraina)," demikian pernyataan Kremlin yang dilaporkan RIA Novosti.

"Percakapan ini, sayangnya, hanya mendengar Presiden Putin akan terus melanjutkan intervensi militer sampai selesai," menurut sumber Elysée.

Pihak Istana Kepresidenan Rusia, Istana Elysee menambahkan, “(Panggilan itu) memungkinkan Presiden Republik (Prancis) untuk kembali (menyuarakan) ketidaksepakatan yang kita miliki dengan Rusia, mendesak alternatif diplomatik untuk operasi militer, untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Presiden Putin tentang bagaimana kita (Prancis) melihat perang di Ukraina tetapi juga konsekuensinya bagi Rusia dalam jangka panjang,” lanjut sumber itu.

Kedua belah pihak sepakat untuk menjaga pintu dialog tetap terbuka, menurut pihak Rusia dan Prancis.

Dalam pembicaraan telepon itu, Putin juga membantah telah membombardir Kiev. Ia sekaligus memperingatkan bahwa situasinya akan memburuk, tetapi menimpakan kesalahan itu pada Ukraina.

Sebagai tanggapan, Macron memperingatkan Putin dia membuat kesalahan besar, menurut sumber itu. Macron menegaskan kembali tuntutan Moskow untuk menetralkan dan melucuti senjata Ukraina tidak dapat diterima, dan tanggung jawab konflik ini sepenuhnya berada di pundak Putin.

Tetapi Macron juga mengatakan masih ada waktu untuk diplomasi dan dialog, untuk mengatasi kekhawatiran Rusia dan memasukkan kepentingan Rusia.

Namun, tegas Macron, diskusi tidak bisa terjadi "di bawah kendali Rusia" dan harus diselenggarakan oleh mitra internasional, kata sumber tersebut.

Macron juga meminta Putin untuk menghormati Presiden Ukraina, keluarga, kerabat, pejabat negara, dan perwakilan terpilih, menurut sumber tersebut.

Setelah panggilannya dengan Putin, Macron menelepon Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Sumber: CNN/Kompas.TV

Sumber: Kompas TV
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved