Kamis, 4 Juni 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Gedung Teater Mariupol Ukraina Dibom Rusia, Korban Muncul dari Reruntuhan

Korban selamat muncul dari reruntuhan gedung teater di Mariupol, ukraina, setelah dibombardir militer Rusia

Tayang:
Editor: Arif Fajar Nasucha
AFP
Citra satelit Maxar yang dirilis pada 16 Maret 2022 ini menunjukkan Teater Drama Mariupol di Mariupol, Ukraina, pada 14 Maret 2022. Bangunan yang pernah digunakan sebagai tempat penampungan ratusan warga sipil Ukraina itu memiliki tulisan “anak-anak” dalam huruf putih besar (dalam bahasa Rusia) di trotoar di depan dan di belakang teater. Itu dibom pada 16 Maret 2022. 

TRIBUNNEWS.COM - Militer Rusia terus melakukan serangann dalam invasi ke Ukraina.

Sejumlah kota menjadi sasaran bombardir dari udara maupun darat.

Termasuk Kota Mariupol, satu dari sekian daerah yang disebut beimbas parah atas serangan Rusia.

Dituliskan BBC, sebuah gedung teater di Mariupol rusak.

Di sisi lain, cerita di balik serangan tersebut terkuak.

Baca juga: Hari ke-22 Invasi: Zelenskiy Sebut Rusia Negara Teroris, Joe Biden Bilang Putin Penjahat Perang

Yakni dari korban selamat yang muncul dari reruntuhan gedung.

Banyak warga sipil yang berlindung di gedung itu selanjutnya selamat bertahan di ruang bawah tanah.

Selama 10 hari, ruang bawah tanah itu menjadi tempat perlindungan bagi Kate, seorang penduduk asli Mariupol berusia 38 tahun, dan putranya yang berusia 17 tahun.

Rumah mereka, seperti banyak rumah lain di kota yang terkepung pasukan Rusia, telah dihancurkan, dan mereka mengira Teater Drama Regional Donetsk adalah tempat aman.

Ibu dan anak itu berdesakan di kamar-kamar, koridor, dan aula yang gelap di gedung itu bersama lusinan keluarga lainnya.

Beberapa wanita, kata Kate, menggendong bayi yang baru berusia empat atau lima bulan.

"Pada awalnya, itu sangat sulit, karena kami tidak memiliki persediaan makanan yang terorganisir dengan baik," kata Kate, yang dulu bekerja di toko kebun binatang.

"Jadi pada dua hari pertama, orang dewasa tidak punya makanan. Kami hanya memberikannya kepada anak-anak."

75 Persen

Sebagian besar serangan militer Rusia di Ukraina dapat dihentikan oleh pertahanan Ukraina, tetapi militer Rusia terus menembakkan puluhan rudal dan roket ke sasaran sipil dan militer setiap hari, kata seorang pejabat senior pertahanan AS pada briefing di Brussels, Rabu (16/3/2022).

Dilansir The Week, AS memperkirakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin memiliki sekitar 75 persen dari total militernya untuk berkomitmen dalam perang di Ukraina.

Seorang pejabat kemudian mengklarifikasi bahwa angka 75 persen yang dimaksud sebagian besar mengacu pada "kelompok taktis batalyon," yang merupakan unit yang paling diandalkan Putin.

"Pada puncak perang kami di Irak dan Afghanistan, kami berkomitmen sekitar 29 persen," kata mantan komandan Angkatan Darat AS Eropa Letnan Jenderal Ben Hodges dari lembaga Center for European Policy Analysis (CEPA) pada hari Selasa.

"Dan sulit untuk mempertahankan itu."

Tentara Rusia memasang bendera Uni Sovyet pada kendaraan lapis baja mereka.
Tentara Rusia memasang bendera Uni Sovyet pada kendaraan lapis baja mereka. (Ist)

Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan pada hari Selasa bahwa mengingat kerugian personel Putin yang signifikan di Ukraina, Rusia mengerahkan pasukan dari jauh seperti Distrik Militer Timur, Armada Pasifik, dan Armenia.

Rusia juga semakin berusaha untuk mengeksploitasi sumber-sumber tidak resmi seperti dari swasta, perusahaan militer, Suriah dan tentara bayaran lainnya.

Hodges mengatakan bahwa Pentagon melihat Rusia sengaja mendiskusikan kemungkinan pasukan pengganti.

"Mengingat kematian, cedera, dan pembelotan yang mereka derita setiap hari, tentu masuk akal bahwa mereka ingin mengeksplorasi opsi untuk mengisi kembali kerugian itu," ujarnya.

"Namun, kami belum melihat indikasi apa pun saat ini."

"Kami masih menilai bahwa mereka memiliki sejumlah besar kekuatan tempur yang tersedia untuk mereka di Ukraina."

"Cukup jelas bahwa para jenderal Rusia kehabisan waktu, amunisi, dan tenaga."

"Tidak ada kabar bahwa Rusia memiliki unit besar yang bersembunyi di hutan di suatu tempat, dan jelas bahwa 900.000 kekuatan militer Rusia adalah angka kosong."

Ukraina Sebut Rusia Kehilangan 77 Pesawatnya sejak Invasi, 12.000 Tentara Terbunuh, 389 Tank Disita

Rusia telah kehilangan 77 pesawatnya sejak menginvasi Ukraina pada 24 Februari lalu, menurut Kementerian Luar Negeri Ukraina seperti dilansir Newsweek, Senin (14/3/2022).

Sebuah pernyataan oleh kementerian Ukraina mengatakan bahwa Rusia juga kehilangan 90 helikopter sejak pertempuran dimulai.

Dikatakan juga bahwa lebih dari 12.000 personel militer Rusia telah tewas dan 389 tank telah disita dari pasukan Rusia.

Situs web militer Oryx juga memberikan angka tentang peralatan militer yang telah disita, rusak, atau ditinggalkan.

Oryx memantau penghancuran peralatan militer melalui laporan sumber terbuka, seperti media sosial.

Baca juga: Putin Izinkan Maskapai Rusia Terbangkan Pesawat Milik Asing di Rute Domestik

Baca juga: Gelombang Pasukan Rusia Terus Berdatangan tapi Pejabat Ukraina PeDe Perang akan Berakhir Bulan Mei

Pemandangan menunjukkan puing-puing pesawat tak dikenal yang menabrak sebuah rumah pribadi di daerah perumahan di Kyiv pada 25 Februari 2022.
Pemandangan menunjukkan puing-puing pesawat tak dikenal yang menabrak sebuah rumah pribadi di daerah perumahan di Kyiv pada 25 Februari 2022. (GENYA SAVILOV / AFP)

Setiap laporan kehilangan perlu didukung dengan bukti foto.

Perhitungan Oryx soal pesawat yang ditangkap atau dijatuhkan oleh angkatan bersenjata Ukraina jauh lebih rendah.

Diperkirakan hanya 13 pesawat Rusia yang hilang sejak perang dimulai.

Dikatakan Ukraina telah kehilangan 9 pesawat.

Rusia belum memberikan angka terbaru tentang korban perang dan kehilangan peralatan militer, termasuk pesawat.

Sementara itu, Moskow telah meningkatkan serangan baru-baru ini.

Pasukan memperluas operasi militernya ke Ukraina Barat, termasuk ke Kota Lviv, yang pada awalnya dianggap sebagai bagian negara yang aman.

Pada hari Minggu, Rusia menyerang sebuah pangkalan militer dekat perbatasan Ukraina dengan Polandia, yang merupakan negara anggota NATO.

Baca juga: Wanita Ini Lakukan Sabotase Stasiun TV Rusia saat Sedang Siaran Live, Bentangkan Poster ‘No War’

Baca juga: Sejumlah Negara Asia Minta Perusahaan Cryptocurrency Jatuhkan Sanksi untuk Rusia

Seorang tentara Ukraina mempertahankan posisinya dengan senjata antipesawat ZU-23-2 di garis depan, timur laut Kyiv pada 3 Maret, 20
Seorang tentara Ukraina mempertahankan posisinya dengan senjata antipesawat ZU-23-2 di garis depan, timur laut Kyiv pada 3 Maret, 20 (Aris Messinis / AFP)

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebelumnya pada hari Senin memperingatkan ancaman Rusia terhadap "rumah" NATO setelah serangan di dekat perbatasan Polandia.

Presiden Polandia Andrezej Duda mengatakan kepada BBC dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada hari Minggu bahwa NATO dapat terseret ke dalam konflik jika Presiden Rusia Vladimir Putin memilih untuk menggunakan senjata pemusnah massal.

"Seperti yang kami katakan di Polandia, menggunakan sedikit ekspresi bahasa Inggris, jika dia menggunakan senjata pemusnah massal maka ini akan menjadi pengubah permainan dalam semuanya."

"Yang pasti, NATO dan para pemimpinnya, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, harus duduk di meja dan benar-benar harus berpikir serius tentang apa yang harus dilakukan."

"Karena ketika itu mulai berbahaya, tidak hanya untuk Eropa, tidak hanya untuk wilayah kita, tetapi untuk seluruh dunia."

Presiden AS Joe Biden telah bersumpah untuk "mempertahankan setiap inci" wilayah NATO.

Namun ia memperingatkan bahwa jika NATO berperang dengan Rusia, maka itu akan menjadi "Perang Dunia III."

(Tribunnews.com/Chrysnha/Tiara Shelavie)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved