Konflik Rusia Vs Ukraina

Joe Biden Tambah Bantuan Senjata Rp 15 Triliun Untuk Ukraina

Presiden AS Joe Biden segera menggelontorkan bantuannya kepada Ukraina sebesar 1 miliar dolar AS atau Rp 14,815 triliun.

Editor: Hendra Gunawan
AFP
Personel militer AS berjaga di depan Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS) M142 

TRIBUNNEWS.COM -- Presiden AS Joe Biden segera menggelontorkan bantuannya kepada Ukraina sebesar 1 miliar dolar AS atau Rp 14,815 triliun.

Dana tersebut disumbangkan sebagai bantuan militer untuk menanggulangi invasi Rusia.

Demikian berdasarkan pernyataan Biden, yang diterbitkan oleh Gedung Putih Rabu.

Dia mencatat bahwa dia membahas operasi militer Rusia di Ukraina dengan Zelensky.

Menurut pernyataan itu, Biden "menegaskan kembali komitmennya" bahwa AS "akan mendukung Ukraina karena membela demokrasinya dan mendukung kedaulatan dan integritas teritorialnya."

Baca juga: Imbas Invasi Rusia, Sektor Pertanian Ukraina Merugi Hingga 4,3 Miliar Dolar AS

"Saya memberi tahu Presiden Zelensky bahwa Amerika Serikat memberikan bantuan keamanan senilai 1 miliar dolar lagi untuk Ukraina," kata Biden.

"Hari ini, saya juga mengumumkan bantuan kemanusiaan tambahan sebesar 225 juta dolar untuk membantu orang-orang di Ukraina, termasuk dengan menyediakan air minum yang aman, pasokan medis dan perawatan kesehatan penting, makanan, tempat tinggal, dan uang tunai untuk keluarga guna membeli barang-barang penting," kata AS dalam pernyataannya.

Dokumentasi saat pasukan AS dari Charlie Battery, Batalyon I, Resimen 12 Marinir menembakkan howitzer M777 di sebuah lokasi di Afghanistan pada Oktober 2011.
Howitzer M777 . (WIKIMEDIA/US MARINE)

Pada 30 April, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan dalam sebuah wawancara untuk Xinhua bahwa negara-negara NATO melakukan segalanya untuk mencegah penyelesaian operasi militer khusus Rusia di Ukraina melalui perjanjian diplomatik.

Baca juga: Ukraina Akui Sulit Menang Perang Melawan Rusia, Ini Penyebabnya

Diplomat top mencatat bahwa senjata sedang dikirim ke Ukraina melalui aliran tanpa akhir. Menurut Lavrov, ini dilakukan dengan dalih "memerangi invasi," sementara pada kenyataannya AS dan Uni Eropa berniat untuk melawan Rusia "sampai Ukraina terakhir," mereka sama sekali tidak peduli dengan nasib Ukraina sebagai subjek independen hubungan internasional.

Pada 24 Februari, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer khusus di Ukraina sebagai tanggapan atas permintaan bantuan dari republik Donbass.

Halaman
1234
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved