Sri Lanka Bangkrut

Bangkrut, Asosiasi Medis Sri Lanka Surati Perdana Menteri Soal Pajak Tembakau dan Alkohol

Perhitungan WHO pada 2016 menemukan bahwa Sri Lanka mengalami kerugian ekonomi 214 miliar rupee Sri Lanka.

AFP/ISHARA S. KODIKARA
Orang-orang mengantri untuk membeli minyak tanah untuk keperluan rumah tangga di sebuah stasiun pasokan setelah pihak berwenang melonggarkan jam malam yang sedang berlangsung selama beberapa jam di Kolombo pada 12 Mei 2022. - Negara berpenduduk 22 juta orang itu berada dalam krisis ekonomi terburuk sejak kemerdekaan dengan kekurangan bahan bakar yang parah. makanan, bahan bakar dan obat-obatan dan pemadaman listrik yang lama. Bangkrut, Asosiasi Medis Sri Lanka Surati Perdana Menteri Soal Pajak Tembakau dan Alkohol (Photo by ISHARA S. KODIKARA / AFP) 

TRIBUNNEWS.COM, COLOMBO - Asosiasi Medis Sri Lanka (SLMA) telah menulis surat yang ditujukan kepada Perdana Menteri (PM) Ranil Wickremesinghe berisi desakan untuk mengikuti pedoman Bank Dunia (World Bank) serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), saat menentukan perpajakan untuk tembakau dan alkohol.

Dikutip dari laman www.dailymirror.lk, Sabtu (25/6/2022), lembaga tersebut sebelumnya memuji upaya yang dilakukan oleh Wickremesinghe untuk mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh krisis ekonomi yang sedang berlangsung di negara itu.

Kemudian meminta pejabat tersebut untuk tidak hanya meningkatkan perpajakan produk tembakau dengan menggunakan formula teknis yang akan menyelaraskan perpajakan dengan inflasi.

Baca juga: Dibayangi Masalah Gizi Akut, Situasi Malnutrisi di Kalangan Anak-anak Sri Lanka Meningkat

Namun juga meninjau kebijakan perpajakan alkohol saat ini dan mengambil langkah segera untuk meningkatkan perpajakan.

Perhitungan WHO pada 2016 menemukan bahwa Sri Lanka mengalami kerugian ekonomi 214 miliar rupee Sri Lanka.

Bahkan pada tahun yang sama, studi sementara yang dilakukan oleh Otoritas Nasional Tembakau dan Alkohol, WHO dan SLMA mengungkapkan bahwa perkiraan kerugian ekonomi alkohol negara itu menjadi 120 miliar rupee Sri Lanka pada 2015.
 

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved