Konflik Rusia Vs Ukraina

Kelompok G7 Pertimbangan Sanksi Baru Terkait Pembatasan Keuntungan Minyak Rusia

sanksi baru ini diusulkan menteri keuangan AS Janet Yellen, setelah Rusia tak mengindahkan aturan pembatasan harga minyak mentah

MARKUS SCHREIBER / POOL / AFP
Pemimpin negara G7 di Kastil Elmau, Jerman selatan pada 26 Juni 2022. Negara Kelompok Tujuh (G7) dikabarkan tengah mengajukan sanksi baru untuk memukul mundur perekonomian negara pimpinan Putin, dengan mempertimbangkan pemblokiran transportasi minyak Rusia. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com  Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, BRUSSEL – Negara Kelompok Tujuh (G7) dikabarkan tengah mengajukan sanksi baru untuk memukul mundur perekonomian negara pimpinan Putin, dengan mempertimbangkan pemblokiran transportasi minyak Rusia.

Meski belum disahkan, namun dengan pembatasan tersebut dapat mencegah Rusia mengambil keuntungan dari kenaikan harga energi. Dengan begini pendapatan Moskow untuk membiayai angkatan militernya di Ukraina dapat berhenti.

Mengutip dari Reuters, Rabu (3/8/2022) sanksi baru ini diusulkan menteri keuangan AS Janet Yellen, setelah Rusia tak mengindahkan aturan pembatasan harga minyak mentah yang telah ditetapkan anggota kelompok G7 seperti Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

Baca juga: Pejabat Kremlin: Rusia Tolak Tuduhan Memulai Konflik di Ukraina

“Dalam mempertimbangkan ini dan opsi lainnya, kami juga akan mempertimbangkan mekanisme mitigasi disamping tindakan pembatasan kami untuk memastikan negara-negara yang paling rentan dan terkena dampak mempertahankan akses ke pasar energi termasuk dari Rusia," jelas pernyataan yang disampaikan G7.

Sebelum G7 melayangkan sanksi tambahan ini, Rusia dilaporkan terus mengalami lonjakan pendapatan di tengah serangan sanksi embargo energi yang dilakukan Barat dan AS.

Ini terjadi lantaran Rusia menjual pasokan minyak mentahnya dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga pasar internasional.

Alasan inilah yang membuat beberapa negara besar di Asia seperti China dan India kepincut untuk mengimpor minyak dari Rusia. Berkat kegiatan impor ini pendapatan Rusia bisa kembali melesat, meski jumlah produksi dan ekspor minyak mencapai ke rekor terendah.

Sayangnya imbas diskon minyak Rusia, harga minyak mentah yang dijual di pasar internasional jadi melesat naik. Alasan tersebut yang membuat negara kelompok G7 murka hingga akhirnya mereka melayangkan sanksi tambahan guna menghentikan perekonomian Rusia.

Dengan  mempertimbangkan larangan komprehensif ini, nantinya semua layanan yang memungkinkan pengangkutan minyak mentah Rusia tidak akan lagi bisa dilakukan. Sampai Rusia menyepakati aturan pembatasan harga yang telah ditetapkan kelompok G7 dengan mitra internasional.

Baca juga: Rusia Klaim Amerika Serikat Terlibat Langsung dalam Perang di Ukraina

"Saat kami menghapus energi Rusia dari pasar domestik kami, kami akan berusaha mengembangkan solusi yang mengurangi pendapatan Rusia dari hidrokarbon, mendukung stabilitas di pasar energi global, dan meminimalkan dampak negatif ekonomi", kata pernyataan G7.

Meski cara ini belum tentu berhasil melumpuhkan perekonomian Rusia, namun  dengan sanksi tersebut setidaknya G7 dapat mengatasi kenaikan harga ditengah krisis energi yang melanda pasar global akibat ketegangan Rusia dengan Ukraina.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved