Konflik Rusia Vs Ukraina

Kementerian Rusia Ungkap Kemerosotan Ekonomi Moskow Tak Separah yang Ditakutkan

Dikatakan ekonomi Rusia menghadapi sanksi lebih baik daripada yang ditakuti awalnya dan inflasi tidak setinggi yang diproyeksikan.

BBC
Presiden Rusia Vladimir Putin terlihat menggigit bibir bawahnya saat menyadari invasi Rusia ke Ukraina terus goyah. - Dikatakan ekonomi Rusia menghadapi sanksi lebih baik daripada yang ditakuti awalnya dan inflasi tidak setinggi yang diproyeksikan. 

TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Ekonomi Rusia memperkirakan ekonomi Moskow akan berkontraksi kurang dari yang diharapkan dan inflasi tidak akan setinggi yang diproyeksikan tiga bulan lalu.

Dikatakan ekonomi Rusia menghadapi sanksi lebih baik daripada yang ditakuti awalnya.

Ekonomi jatuh ke dalam resesi setelah Moskow mengirim angkatan bersenjatanya ke Ukraina pada 24 Februari.

Situasi itu memicu sanksi Barat pada sektor energi dan keuangannya, termasuk pembekuan cadangan Rusia yang disimpan di luar negeri, dan mendorong sejumlah perusahaan Barat untuk pergi.

Dikutip Al Jazeera, hampir enam bulan sejak Rusia memulai apa yang disebutnya “operasi militer khusus”, penurunan tersebut terbukti tidak terlalu parah daripada yang diperkirakan kementerian ekonomi pada pertengahan Mei.

PBD menyusut 4,2 persen

Baca juga: Rusia Peringatkan Harga Gas Eropa Bisa Melonjak 60 Persen, Jerman Langsung Amankan Pasokan LNG

Produk domestik bruto (PDB) Rusia akan menyusut 4,2 persen tahun ini, dan pendapatan nyata yang dapat dibelanjakan akan turun 2,8 persen dibandingkan dengan penurunan masing-masing 7,8 persen dan 6,8 persen, terlihat tiga bulan lalu.

Pada satu titik, kementerian memperingatkan ekonomi berada di jalur untuk menyusut lebih dari 12 persen, dalam apa yang akan menjadi penurunan paling signifikan dalam output ekonomi sejak jatuhnya Uni Soviet dan krisis yang dihasilkan pada pertengahan 1990-an.

Dikutip TASS, Kementerian sekarang melihat inflasi akhir tahun 2022 di 13,4 persen dan pengangguran 4,8 persen dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya masing-masing 17,5 persen dan 6,7 persen.

Perkiraan PDB untuk tahun 2023 lebih pesimistis, dengan kontraksi 2,7 persen dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 0,7 persen.

Hal ini sejalan dengan pandangan bank sentral bahwa pelemahan ekonomi akan berlanjut lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

Kementerian ekonomi mengabaikan perkiraan harga minyak, ekspor utama Rusia, dalam kumpulan data Agustus dan tidak memberikan alasan untuk merevisi perkiraannya.

Perkiraan tersebut akan ditinjau oleh komite anggaran pemerintah dan kemudian oleh pemerintah sendiri.

Berita lain terkait dengan Konflik Rusia Vs Ukraina

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved