Gadis Cilik 3 Tahun Meninggal Kepanasan Dalam Mobil, Kepala TK Kawasaki Jepang Minta Maaf

Saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya kepada anak-anak dan keluarga yang ditinggalkan yang kehilangan nyawa mereka

Richard Susilo
Tatsuyoshi Masuda (73) rambut putih di tengah, beserta pimpinan Taman Kanak-kanak Kawasaki minta maaf kemarin (7/9/2022) di depan pers. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO -  Kepala Sekolah TK Kawasaki  (Direktur) Tatsuyoshi Masuda (73) kemarin (7/9/2022) meminta maaf sedalamnya kepada masyarakat karena akibat kelalaiannya, gadis cilik 3 tahun China Sakamoto akhirnya meninggal kepanasan di dalam bus jemputan Taman kanak-kanak (TK) Kawasaki di tempat parkirnya.

"Saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya kepada anak-anak dan keluarga yang ditinggalkan yang kehilangan nyawa mereka. Selain itu, saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya kepada orang tua dan wali atas perhatian dan ketidaknyamanan mereka yang disebabkan oleh kecelakaan ini. Saya dengan tulus meminta maaf," ungkap Masuda beserta pimpinan TK Kawasaki langsung menunduk dengan dalam di hadapan pers kemarin (7/9/2022).

Pada hari kecelakaan, pengemudi yang biasa ternyata tidak ada. Kepala Sekolah Masuda yang mengambil alih mengemudikan bus sekolah. Seorang pekerja sementara perempuan berusia 70-an juga berada di dalam bus.

Ada 6 anak TK di dalam bus tersebut dan bus yang ditinggalkan penumpang serta Masuda, kecuali China (3) yang tertinggal di dalam bus, dengan panas sekitar 38 derajat Celcius sehingga China-chan meninggal dunia kepanasan.

"Pada saat itu, mungkin menjadi posisi saya sebagai direktur utama sehingga saya serahkan pengurusan yang ada di dalam bus ke anggota staf asisten wanita. Jadi saya tidak tahu apa yang terjadi setelah turun mobil," kata Masuda.

Wakil Direktur TK Kawasaki Tomoko Sugimoto (58) mengomentari,  “Biasanya kru bisa (memeriksa) hal seperti itu bekerja sama dengan pengemudi biasa. Saya pikir kepala sekolah akan (mengkonfirmasi) ketika  mengemudi. Namun, ada kurang  komunikasi tampaknya saat itu. Jika saya telah mengambil metode konfirmasi sendiri, seperti mengatakan "tolong" kepada stafnya mungkin kecelakaan tak terjadi."

TK Kawasaki, yang ada di di Kota Makinohara, Prefektur Shizuoka, menurut Wakil Direktur Tomoko Sugimoto memberikan empat alasan mengapa terjadi kecelakaan tersebut.

 “Pertama, ketika turun dari bus, tidak dikomunikasikan sebagai aturan untuk mencocokkan daftar asrama dengan anak-anak yang benar-benar turun Ketika bus tiba di taman kanak-kanak tidak ada yang tahu dari pihak TK. Lalu   tidak ada aturan untuk memeriksa ulang apakah anak tertinggal di dalam bus. Kemudian yang kedua, juga kesalahan   pengemudi tidak memeriksa di dalam bus setelah anak-anak turun."

Sesampainya di sekolah TK, setelah mengantar satu orang terlebih dahulu, Masuda  menyuruh lima orang yang tersisa untuk turun sendiri, tapi dia tidak memastikan apakah China-chan turun atau tidak.

 "Kesalahan ketiga, asisten kelas tidak mengkonfirmasi informasi kehadiran akhir. Keempat, meskipun anak yang dijadwalkan untuk hadir tidak ada di kelas, wali kelas tidak `mengkonfirmasi dengan ruang staf   atau  bertanya dengan wali ."

Di TK Kawasaki, orang tua memasukkan informasi ke dalam aplikasi ketika anak mereka tidak masuk atau terlambat, tetapi tidak memasukkan apa pun saat anak datang ke sekolah. Wali China-chan tidak mengetik apapun ke dalam aplikasi tersebut.

Kepala Sekolah TK Kawasaki Masuda mengakui kesalahannya.

"Kali ini yang terbesar kesalahan adalah human error. Sistem sedang dikembangkan supaya dapat menguranginya."

Sementara itu beasiswa (ke Jepang), belajar gratis di sekolah bahasa Jepang di Jepang, serta upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif.

Info lengkap silakan email: info@sekolah.biz dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved